Tampilkan postingan dengan label Pengorbanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengorbanan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2014

Sabar Negative, Adakah ?



Oleh: Asma Nadia

Bagaimana mungkin sabar ada yang negatif, bukankah itu perintah Quran?

Lalu adakah sabar negatif?

Saya tahu tidak mungkin ada perintah yang salah dalam Quran, tapi masalahnya sabar yang kita kenal saat ini adalah sabar versi sebagian besar manusia Indonesia, yang maknanya menyimpang jauh dari sabar versi Quran.

Salah satu alasan kenapa kita selalu dilanda banjir, tidak tanggap menghadapi bencana, tertinggal dari negara lain adalah karena sabar negatif. Salah menerjemahkan makna sabar.

Kesalahan pertama adalah pemahaman bahwa sabar berarti menunggu. Tunggu jebol baru tanggul diperbaiki. Tunggu saja pejabat habis masa waktunya kalau bekerja tidak baik. Tunggu saja uang masuk, sebab kalau memang rejeki tidak akan kemana. Padahal Rasulullah mencontohkan sabar sebagai sikap memahami timing. Ada saatnya menunggu, ada saatnya pro aktif ada saatnya kita bertindak lebih dahulu. Sabar adalah daya tahan seseorang menyesuaikan sikap diri dengan kebutuhan timingyang tepat. Jika saatnya diam walaupun marah maka tetap diam, jika saatnya bergerak walaupun mengantuk ya harus bergerak.

Kesalahan kedua adalah mengidentikkan sabar dengan pasrah ataunerimo. Jalanan macet terima saja. Pejabat tidak berfungsi terima saja.Banjir terus menerus ya terima saja. Ketika mushola di mal mewah ditempatkan di lokasi basement yang sulit dicapai atau di sudut menjijikkan, pun kita terima saja.

Padahal Rasulullah sebagai orang yang paling mengerti konsep sabar mencontohkan sikap berani menuntut hak, berani bertindak dan tidak begitu saja menerima nasib. Ketika Rasul dan sahabat disiksa di Makkah, mereka diam bukan karena takut atau nerimo, tapi karena mengerti pada waktu itu bukan saat tepat untuk melakukan perlawanan. Tapi ketika Rasul dipaksa untuk ikut beribadah menyembah berhala, ia menolak keras. Jadi sabar bukan nerimo melainkan bisa menerima keadaan sesuai dengan keharusan.

Kesalahan ketiga memaknai sabar adalah menganggap sabar sama dengan diam. Ketika dilarang berjilbab kita diam. Ketika acara televisi banyak menyesatkan anak-anak, kita diam. Ketika umat diperlakukan tidak adil, kita diam. Padahal Rasulullah memerintahkan setiap muslim untuk mencegah kemungkaran dengan tangan, lisan atau dengan hati, dan diam sepenuhnya sama sekali bukan bagian yang dianjurkan sang nabi.

Kesalahan keempat terkait sabar adalah memahami sabar sebagai tidak marah, tidak berkelahi, tidak melawan penindasan. Apakah benar?

Rasulullah sangat mengerti konsep sabar, namun ‘marah’ ketika melihat kemunkaran, berperang dan memimpin perang. Memperjuangkan hak dengan fisik bukan berarti tidak sabar. Orang yang marah bukan berarti tidak sabar. Rakyat yang memprotes karena pemerintah tidak menjalankan tugasnya bukan rakyat yang tidak sabar, tetapi justru rakyat yang berani memperjuangkan haknya. Umat Islam yang menuntut mushola dilokasikan di tempat yang strategis di mall dan berbagai fasilitas umum, juga bukanlah umat yang tidak sabar, melainkan umat yang mengerti benar hak-hak mereka.

Muslimah yang berdebat keras bahkan melawan atasan karena menolak dipaksa membuka jilbab pun bukan tidak sabar, sebaliknya justru karena paham apa yang menjadi haknya.

Sabar adalah daya tahan.
reposting from:
http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/02/08/n0mifn-sabar-negatif

Senin, 27 Mei 2013

Tergesa-gesa dalam Islam dibolehkan atas 5 hal

Dalam kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, dikisahkan ada seorang sahabat yang bernama Hatim. Suatu saat ketika ia sedang melakukan transaksi jual beli dengan si fulan, fulan tersebut kentut namun sahabat Hatim diam saja tanpa memberi respon apa-apa. Anggapan si fulan, Hatim adalah orang tuli, koq ia kentut Hatim diam saja seperti tak mendengar. Seteleh berlalu, si fulan menceritakan kejadian tersebut kepada orang-orang yang berada di pasar. Orang-orang bertanya Hatim yang mana. Fulan menjawab: ”tuh, Hatim yang tuli (al-‘Ashom).” Sambil menunjuk kearah Hatim. Maka orang-orang menganggapnya Hatim al-‘Ashom (Hatim si tuli).  Lantas Hatim berkata: ”Jangan terburu-buru Kawan, mengatakan saya seperti itu. Tadi saya pura-pura tuli. Kalau saya jujur, saya takut membuat malu Anda.” Kemudian Hatim berkata lagi: “kita diajarkan untuk tidak tergesa-gesa (terburu-buru) dalam segala sesuatu kecuali dalam 5 (lima) hal yang disunnahkan Rasulullah SAW. yaitu:

  1. Menyuguhkan tamu. Kita harus segera menyuguhkan hidangan atau minuman ketika ada tamu menghampiri rumah kita. Suguhan ini harus segera malah kalau bisa sebelum tamu tersebut duduk di kursi.

  2. Mengurus mayyit. Jenazah orang mati harus segera diurus, tidak boleh ditunda-tunda lagi karena itu adalah hak mayyit juga untuk segera diurus. Dimandiakan, dikafani, disholati kemudian dikuburkan.

  3. Mengawinkan anak perempuan atau laki-laki bila sudah berumur dan sudah ketemu jodohnya. Sebagai orangtua memiliki kewajiban untuk segera menikahkan anak-anaknya yang sudah berumur dan ketemu jodohnya. Kalau anaknya ingin kawin jangan dicegah tapi kalau anaknya yang tidak mau kawin, suruhlah dengan segera.

  4. Membayar hutang kalau sudah jatuh tempo. Kalau sudah jatuh tempo, hutang kita harus segera dibayarkan. Begitu juga janji, kalau kita sudah janji harus segera kita tunaikan.

  5. Tobat dari setiap dosa yang telah diperbuat. Kita diperintahkan untuk segera bertobat atas dosa yang telah kita perbuat. Ketika kita berdosa, kita jangan santai, diam, slow atau apalah bahasanya sehingga kita lupa memohon ampun. Lama kelamaan, kalau dosa itu sudah menumpuk akan susah dihapus. Do’a kita tertolak karena ada himpitan dosa. Makanya dianjurkan segera bertobat tatkala kita melakukan perbuatan yang berdosa.

Rabu, 22 Mei 2013

10 Ciri Pribadi Muslim (10 Muwashofat)

Istilah ini gak asing lagi bagi Para Santri, nah kamu yang bukan pentolan Pesantren juga pernah dengar istilah ini, yuk kita review kembali 10 Ciri Pribadi Muslim (10 Muwashofat)


1. Salimul Aqidah (aqidahnya bersih)
Akidah adalah asas dari amal. Amal-amal yang baik dan diridhai Allah lahir dari aqidah yang bersih. Dari sini akan lahir pribadi-pribadi yang memiliki jiwa merdeka, keberanian yang tinggi, dan ketenangan. Sebab, tak ada ikatan dunia yang mampu membelenggunya, kecuali ikatan kepada Allah swt. Seorang kader dakwah yang baik akan selalu menjaga kemurnian aqidahnya dengan memperhatikan amalan-amalan yang bisa mencederai keimanan dan mendatangkan kemusyrikan. Sebaliknya, selalu berusaha melakukan amalan-amalan yang senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
Aplikasi: Senantiasa bertaqorrub (menjalin hubungan) dengan Allah, ikhlas dalam setiap amal, mengingat hari akhir dan bersiap diri menghadapinya, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, dzikrullah di setiap waktu dan keadaan, menjauhi praktik yang membawa pada kemusyrikan.
2. Shahihul Ibadah (ibadahnya benar)
Ibadah, wajib dan sunnah, merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Allah swt. Kedekatan seorang hamba ditentukan oleh intensitas ibadahnya. Ibadah menjadi salah satu pintu masuk kemenangan dakwah. Sebab, ibadah yang dilakukan dengan ihsan akan mendatangkan kecintaan Allah swt. Dan kecintaan Allah akan mendatangkan pertolongan.
Aplikasi: Menjaga kesucian jiwa, berada dalam keadaan berwudhu di setiap keadaan, khusyu dalam shalat, menjaga waktu-waktu shalat, biasakan shalat berjamaah di masjid, laksanakan shalat sunnah, tilawah al-Qur’an dengan bacaan yang baik, puasa Ramadhan, laksanakan haji jika ada kesempatan.
3. Matinul Khuluq (akhlaqnya tegar)
Seorang kader dakwah harus ber-iltizam dengan akhlaq islam. Sekaligus memberikan gambaran yang benar dan menjadi qudwah (teladan) dalam berperilaku. Kesalahan khuliqiyah pada seorang kader dakwah akan berdampak terhadap keberhasilan dakwah.
Aplikasi: Tidak takabur, tidak dusta, tidak mencibir dengan isyarat apapun, tidak menghina dan meremehkan orang lain, memenuhi janji menghindari hal yang sia-sia, pemberani, memuliakan tetangga. Bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjenguk orang sakit, sedkit bercanda, tawadhu tanpa merendahkan diri.
4. Qadirul’alal Kasb (kemampuan berpenghasilan)
Kita mengenal prinsip dakwah yang berbunyi ”shunduquna juyubuna (sumber keuangan kita dari kantong kita sendiri)”. Yang berarti setiap kader harus menyadari bahwa dakwah membutuhkan pengorbanan harta. Oleh karena itu setiap kader dakwah harus senantiasa bekerja dan berpenghasilan dengan cara yang halal. Tidak menjadikan dakwah sebagai sumber kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi sumber penghasilan haram, menjauhi riba, membayar riba, membayar zakat, menabung meski sedikit, tidak menunda hak dalam melaksanakan hak orang lain, bekerja dan berpenghasilan, tidak berambisi menjadi pegawai negeri. Mengutamakan produk umat Islam, tidak membelanjakan harta kepada non-muslim.
5. Mutsaqaful Fiqr (pikirannya intelek)
Intelektualitas seorang kader dakwah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah. Sejarah para nabi juga memperlihatkan hal itu. Kita melihat bagaimana ketinggian intelektualitas Nabi Ibrahim, dengan bimbingan wahyu, mampu mematahkan argumentasi Namrud. Begitu pula kecerdasan Rasul dalam mengemban amanah dakwahnya, sehingga ia digelari fathonah (orang yang cerdas).
Aplikasi: Baik dalam membaca dan menulis. Upayakan mampu berbahasa Arab, menguasai hal-hal tertentu dalam masalah fiqih seperti shalat, thaharah dan puasa, memahami syumuliatul Islam, memahami ghazwul fikri, mengetahui problematika kaum nasional dan internasional, menghafal al-Qur’an dan hadits, memiliki perpustakaan pribadi sekecil apapun.
6. Qawiyul Jism (fisiknya kuat)
Beban dakwah yang diemban para kader dakwah sangat berat. Kekuatan ruhiyah dan fikriyah saja tidak cukup untuk mengemban amanah itu. Harus ditopang oleh kekuatan fisik yang prima. Sejumlah keterangan al-Qur’an dan Hadits menjelaskan betapa pentingnya aspek ini.
Aplikasi: Bersih pakaian, badan dan tempat tinggal, menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah, berolahraga, bangun sebelum fajar, tidak merokok, selektif dalam memilih produk makanan, hindari makanan/minuman yang menimbulkan ketagihan, puasa sunnah, memeriksakan kesehatan.
7. Mujahidu Linafsihi (bersungguh-sungguh)
Bersungguh-sungguh adalah salah satu ciri orang mukmin. Tak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa kesungguhan. Kesadaran bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat, dan kehidupan abadi adalah kehidupan akhirat, akan melahirkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi segala yang haram, menjauhi tempet-tempat maksiat, memerangi dorongan nafsu, selalu menyertakan niat jihad, hindari mengkonsumsi yang mubah, menyumbangkan harta untuk amal islami, menyesuaikan perkataan dengan perbuatan, memenuhi janji, sabar, berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
8. Munazham fi syu’unihi (teratur dalam semua urusannya)
Seorang kader dakwah harus mampu membangun keteraturan dalam kehidupan pribadi dan keluarganya agar bisa menghadapi persoalan umat yang rumit dan kompleks.
Apalikasi: Memperbaiki penampilan, jadikan shalat sebagai penata waktu, teratur di dalam rumah dan tempat kerjanya, disiplin dalam bekerja, memprogram semua urusan, berpikir secara ilmiah untuk memecahkan persoalan, tepat waktu dan teratur.
9. Haritsun ’ala waqtihi (efisien menjaga waktu)
Untuk menggambarkan betapa pentingnya waktu, ada pepatah mengatakan ”waktu ibarat pedang”. Bila tak mampu dimanfaatkan maka pedang waktu akan menebas leher kita sendiri. Seorang kader harus mampu seefektif mungkin memanfaatkan waktu yang terus bergerak. Tak boleh ada yang terbuang percuma.
Aplikasi: Bangun pagi, menghabiskan waktu untuk belajar, mempersingkat semua urusan (tidak bertele-tele). Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, tidak tidur setelah fajar.
10. Nafi’un Lighairihi (berguna bagi orang lain)
Rasul menggambarkan kehidupan seorang mukmin itu seperti lebah yang akan memberi manfaat pada lingkungan sekitarnya. Kader dakwah memberi manfaat karena setiap ucapan dan gerakannya akan menjadi teladan bagi sekitarnya.
Aplikasi: Melaksanakan hak orang tua, ikut berpartisipasi dalam kegembiraan, membantu yang membutuhkan, menikah dengan pasangan yang sesuai, komitmen dengan adab Islam di dalam rumah, melaksanakan hak-hak pasangannya (suami-istri), melaksanakan hak-hak anak, memberi hadiah pada tetangga, mendo’akan yang bersin.
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing. Wallahu`alam ^_^

Sabtu, 09 Maret 2013

Dilarang Pacaran BUKAN Dilarang Jatuh Cinta



Ketika seseorang menguburkan CINTAnya, maka kelak kan tertatih dan letih mencari dimana CINTA tersebut Ia kuburkan, Karena CINTA terkubur tanpa batu NISAN“

(Bang Ori Gagah, Padang – di ujung December 2010)

Penjelasan:

Terkadang ketika seorang Adam dan Hawa berhadapan dengan pahitnya realita Cinta, dikhianati atau didustai, maka bagi beberapa orang secara keji menguburkan hidup-hidup CINTAnya, mereka tidak menyadari bahwa kesalahan itu bukan pada Cinta tersebut, mengapa harus CINTA yang disalahkan hingga dibunuh atau bahkan menguburkannya.

Beberapa cerita nyata dan berbagai keluh kesah mereka bahkan curahan hati mereka yang terjebak hubungan semu Pacaran memberanikan saya (penulis- Bang Ori) untuk menyimpulkan bahwa kesalahan tersebut terletak pada jalur CINTA yang dijalani anak cucu Adam dan Hawa tersebut.

Jalur baik tersebut tidak bertentangan dengan fitrah manusia, bahkan mententramkan batin manusia, itulah dia PERNIKAHAN.
"tidak ada jalan bagi dua orang (yang berlawanan jenis) yang saling mencintahi melainkan pernikahan" (HR.Ibnu Hibban)

Sedangkan Jalur Syubhat (dikeragui kehalalanya) dan buruk tersebut (PACARAN) telah banyak menjatuhkan Anak cucu Adam kedalam lumpur dosa dan mengorbankan banyak CINTA yang tidak bersalah sehingga terbunuh (kecewa) dan dikubur hidup-hidup (benci), itulah dia PACARAN.

“Kebanyakan manusia menanam benih CINTA terhadap sesama makhluk, padahal makhluk tidak selamanya Kekal, oleh karenanya agar CINTA itu Abadi, maka tanamlah benih CINTA pada Dzat yang Maha Kekal nan Abadi yakni Allah Swt.”

pemandangan yang amat menyedihkan adalah setiap malam Ahad (minggu),
setiap sudut kota dipenuhi kemaksiatan sebagian besar remaja,entah memang tak tau atau memang tidak tau, atau juga memang tidak mau tau bahaya laten PACARAN yang mereka geluti, akankah Penyesalan kan menjadi kata terakhir untuk sebuah perubahan ???

Dilarang Pacaran BUKAN Berarti Dilarang Jatuh Cinta

Karena Cinta, Mencintai dan Dicintai adalah Fitrah manusia, bahkan termasuk ke dalam kategori "Gharizah" (Kecendrungan) terhadap lawan jenis. namun dalam merealisasikan Gahrizah tersebut mesti dengan cara yang Manusia (yang sudah dimuliakan) bukan dengan cara syahwat hewaniah saja.

Cara yang mulia tersebut sudah ada dalam syariat Islam (Khitbah & Pernikahan) cara ini adalah cara yang HALAL, BAIK dan RESMI. Pertanggungjawabannya menembus batas Dunia hingga ke Pengadilan AKHIRAT, disinilah letak salah satu Kemuliaan tersebut.

Sangat Bertolak belakang dengan IKATAN ILEGAL tersebut (PACARAN), Pertanggungjawabannya kepada siapa???

PACARAN adalah IKATAN ILEGAL, ya iyalah ILEGAL, mana ada "Buku Pacaran" ? karena yg ada hanya "Buku Nikah" (y).

Pelakunya jika tidak di Adzab di Dunia maka Diakhirat Adzab telah menantinya, kecuali Pelakunya bertaubat dan meninggalkan aktivitas "memalukan" tersebut.
Percayalah... bahawa Tidak ada Kata terlambat untuk MENG-AKHIRI Hubungan ILEGAL ini, mau sampai kapan Anda Menambah SALDO Dosa Anda pada Buku Tabungan Aktivitas ILegal ini.

Brother and Sister, Ikhwan wa Akhawat fi LLah,
coba bersikap realistis dalam menjalani hidup, hanya mereka yang tidak realistis, yang berani menjalani romansa percintaan pada jalur PACARAN, padahal endingnya saja belum jelas, entah bakal lanjut ke pelaminan atau tidak? bisa saja putus ditengah jalan, kemudian jadi "MANTAN".

emang enak dikasih label "MANTAN", baik yang jadi MANTAN atau yang DI-MANTAN-IN pada dasarnya sama, sama-sama terluka hatinya, sama-sama kecewa, sama-sama jadi korban perasaan yang bercampur aduk, sama-sama menyesal.

ini bukan sekedar soal Jatuh Cinta biasa, ini juga bukan sekedar menghapus status JOMBLO.
tapi ini lebih menitik beratkan kepada Proses yang dilalui dan dijalani.
yaaa... Sebuah Proses untuk masa depan jauh menembus tapal batas akhirat.
Perhatikan PROSES yg dilalui oleh tumbuh kembang cinta tersebut, jika prosedur yg dilalui adalah jalan yang dibenarkan syariat, pasti ada balasan Pahala yang luarbiasa dari Allah Azza wa jalla, seharusnya tidak dilihat dari umurnya (nikah mudah atau sebaliknya) namun lebih menitik beratkan ke "proses" nya  karena proses menentukan hasil atau "produk" yang berkualitas, terlepas dari itu semua adalah kehendak dari Allah Swt, namun siapa yang tahu kehendak-Nya.

saya SeUMUR HIDUP saja Bisa tidak terjerumus dan Terjebak dalam IKATAN ILEGAL (PACARAN) tersebut, tapi jangan salah saya juga bisa jatuh CINTA, bahkan yang Jatuh Cinta tersebut jatuh jauuuuuh ke atas menembus tapal batas, sosok BIDADARI SURGA yang di Janjikan-Nya, meskipun demikian BIDADARI DUNIA adalah yang TERBAIK ^_^. wallahu a`lamu. (Bang Ori Gagah, Padang - diantara Jomblo-Jomblo Ideologis 09.03.2013)

Cuplikan Video MAHER ZEIN - SEPANJANG HIDUP

Cari disini

Translate (Penterjemah)

Followers