Tampilkan postingan dengan label Mujahidin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mujahidin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

Catatan Pengungsian (al Ghuraba`)


Oleh: Bahrun Naim (pada 9 Agustus 2012 pukul 14:01)

Akhir tahun 2011 lalu, penjara tempatku ber uzlah kedatangan sebuah 'tamu' rombongan negara. Yaitu para pegungsi yang mencari suaka dari negara Afghanistan, Pakistan, Uzbekistan, Iraq, dll. Mereka berjumlah sekitar 180orang dan dipisahkan antara pengungsi pria dan wanita. Sebuah ironi ternyata, orang yang masuk ke dalam penjara memang belum tentu orang yang bersalah. Mereka tidak bersalah secara hukum, namun justru ditempatkan di sel penjara. Beberapa diantara mereka berusaha untuk lari melompati tembok penjara setinggi 5 meter.

Kebetulan sel tempatku menginap berada di ujung blok, melewati dua sel tempat para pengungsi tersebut berada. Mereka tinggal selama sebulan di penjara itu. Awalnya mereka ketakutan ketika kusapa, mereka menyangka aku termasuk taliban. Ku ketahui teryata diantara mereka pernah jadi 'korban' ketegasan Taliban. Mungkin barangkali setiap ku berangkat ke masjid mereka memperhatikanku yang berangkat mengenakan gamis, tidak seperti napi lainnya. Apalagi kasus sandiwara yang kuhadapi pada awalnya dituduh hendak menembak Obama presiden AS pada waktu itu yang berkunjung ke Indonesia tahun 2010 silam.

Awalnya pula, pihak petugas merasa kesulitan berkomunikasi dengan para pengungsi tersebut yang kebanyakan berbahasa arab, inggris, pastun, maupun urdu. Sehingga tiap ada komunikasi, petugas memanggilku sebagai translator dadakan. Tentu dengan kemampuan bahasa ala kadarnya, sekedar mengikuti situs berbahasa asing maupun menterjemahkan kitab-kitab asing.

Dari situlah, saya bertukar pemikiran degan para pengungsi tersebut. Diantara mereka ada yang berasal dari Iraq, tepatnya dari wilayah Basrah. Sebut saja namanya Bobby. Bobby tidak bisa berbahasa apapun kecuali arab saja. Ada pula pengungsi bernama ashraf dari Afghanistan. Ataupun Ahmad dari Uzbekistan, maupun Yusuf dari Pakistan.

Awalnya ku mendekati mereka sekedar mereka senantiasa menegakkan sholat dan meninggalkan maksiyat. Bisa dibayangkan pengungsi yang berhari hari tanpa salah dipenjara dalam sebuah sistem bernama badan PBB. Awalnya mereka nampak tidak menerima keadaan dimasukkan di jeruji penjara laksana pesakitan. Hari harinya dihabiskan hanya dengan melamun, dan merokok. Hingga akhirnya sholat mereka kembali tegak meski dibalik jeruji penjara.

Keadaanku jauh lebih baik. Karena setelah vonis, para narapidana bebas berkeliaran di sekeliling penjara. ada yang beraktifitas di bengkel kerja, ataupun di kantor kantor petugas sebagai tenaga pendamping maupun cmn sekedar ngendon di masjid untuk beribadah.

Dengan itulah perlahan mereka mulai terbuka, hingga suatu hari saya dipanggil mereka dengan sebutan Mollah. Mereka suka bercerita tentang keadaan mereka, anak istri mereka, dan cita-cita mereka. Mensenandungkan lagu lagu mereka, yang terkadang saya pun tak bisa memahami dialek mereka yang cepat dan heroik. Saat itulah kumencoba mengajarkan mereka dengan nasyid nasyid jihad. Sehingga seorang pengungsi dari Iraq pun menangis dengan sebuah lirik nasyid 'ya ayyuhas syahid'. Dia bertanya, dari manakah aku belajar lirik tersebut. Dari situlah mereka mulai akrab denganku.

Bobby menceritakan tentang wilayahnya, kerusakan negerinya akibat invasi AS, dll

Saya : saudaraku, musuh kita pada hakikatnya sama. Yaitu orang yang menjadikan negerimu hancur.

Bobby : itulah kenapa aku memilih keluar dari Iraq.

Saya : saudaraku, kotamu adalah kota para ulama. kota para pejuang, mengapa kau tinggalkan wilayah tersebut?

Bobby : karena iraq telah hancur.

Saya : di negeri ini saudaraku, hampir tidak ada kata penduduknya mengungsi. kami negeri pejuang pula yang akan tetap bertahan sampai darah penghabisan

ku lanjutkan. "Kami justru mencari kesyahidan, lupakah engkau lari dari pertempuran sama dengan membawa murka Allah".

Ia termenung lama, hingga meneteskan air mata. Kemudian ia bercerita tentang anak istrinya yang telah tiada. Aku nasehati dia untuk tetap dalam keimanan dalam negeri lain. Dan kembali melanjutkan fisabilillah dimanapun berada. Ia mengangguk keesokan harinya ia menampakkan kecerahan dan ingin senantiasa berbincang denganku.

Di lain waktu ada pengungsi dari Afghanistan, sebut saja namanya Ashraaf. Dia mengaku sebagai korban Taliban. Awalnya ia ketakutan bertemu denganku, namun akhirnya ashraaf mulai membuka diri.

Ashraaf : mollah, knp engkau dipenjara? tanyanya

Saya : fitnah akhi, fitnah akhir zaman, saya dituduh hendak menembak Obama.

Ashraaf : Obama presiden AS

Saya : begitulah fitnah mereka. Alhamdulillah, makar Allah lebih canggih. Saya sekedar mengaminkan apa yang menjadi keinginan mereka. Bisa jadi suatu saat Obama akan terbunuh

Ashraaf : Mengapa kau lakukan itu?

Saya : Obama, 1. pemimpin negeri kafir harb , 2. murtad dari agama nenek moyangnya.

Ashraaf : bukankah Obama 'muslim'

Saya : tidak ada negeri yag bersekutu dengan AS yang mampu sejahtera.

Ashraaf : mengapa engkau tak mengajar mengaji saja?

saya : setiap ilmu ada amalnya akhi. dan amal tertinggi dalam islam adalah fisabilillah

Ashraaf : apakah engkau kecewa dengan keadaan ini?

Saya : tidak, insya Allah, wal hamdulillah. Keadaan ini keadaan para ulama. Bagaimana denganmu ashraaf? saya kira taliban tidak akan menderamu bila engkau tidak berbuat salah?

Ashraaf : sebenarnya iya (benar), namun mereka telah mensakiti saya.

Saya : apakah engkau rela disiksa di akhirat daripada di dunia?

Ashraaf : tentu tidak, namun sikap mereka tidak baik

Saya : Engkau bisa berpikir bagaimana afghanitan kini dan pada saat taliban ada.

Ashraaf : hm....

Di lain waktu, ku berdiskusi dengan pengungsi dari Uzbekistan, mereka fasih berbahasa arab. Ku mengenali mereka dengan postur wajah dan tubuh yang berbeda daripada pengungsi lainnya.

Saya : apakah engkau dari xinjian?

ahmad : tidak, kaum uzbek

Saya : ah... wilayah imam bukhori, atau syaikh samarkandi

Ahmad : kau mengenalinya juga?

Saya : tentu, seluruh wilayah kaum muslimin satu. Hampir tidak ada bedanya ulama dari Makkah dengan dari Uzbekistan. Indonesia maupun Cordobi (qurtubi, cordova).

kuberikan sebuah naskah khutbah jumat berbahasa arab yang mengangkat tema tentang khilafah. Ia nampak mengrenyitkan dahinya.

Ahmad : apakah khilafah ada disini?

Saya : khilafah belum tegak saudaraku...

Ahmad : maksdku dakwah khilafah

Saya : bukankah itu kewajiban setiap muslim?

Ahmad : ada sebuah peristiwa beberapa tahun silam di negeri kami...

Saya : iya, kami sudah mendengarnya... insya Allah tiada lama khilafah akan tegak saudaraku.

Ahmad : ... Ma sya Allah. (insya Allah maksdnya)

Saya : inilah sebab seluruh muslim menderita. Termasuk engkau

Dilain waktu pula, ku berbicara dengan seorang pemuda tampan dari Waziristan, Ma'rokatul mujahid.

Fulan : mollah, lets talk a momment?

Saya : baru kali ini ada yg mengajak bicara bhs inggris.

Fulan : ia nampak tertawa, what your case mollah.

Saya : saya dituduh teroris, hanya karena saya berdakwah

Fulan : koq bisa.. bagaimana ceritanya

Saya : pada hakikatnya sama, hampir di seluruh wilayah kaum muslimin. para penguasa berbuat dzalim. pasti di tempatmu juga

Fulan : ditempatku, penguasa tidak dapat apa-apa?

Saya : maksdnya?

Fulan : asing terlalu berkuasa

Saya : bukankah waziristan, wilayah mujahid...

Fulan : pada faktnya demikian, namun penguasa pakistan selalu menggunakan kekuatan asing untuk menyerbu wilayah kami

Saya : bagai induk ayam yang menyerahkan anaknya sendiri ya?

Fulan : betul..

Saya : itulah penguasa kita, kita hanya menunggu satu penguasa terbaik. Yaitu Imam Mahdi

Fulan : hm.. kau mempercayainya?

Saya : kami akan berperang di belakang al Mahdi

Fulan : bagaimana dengan taliban?

Saya : saya rasa seluruh kaum muslimin yg hanif akan bergabung dan bersatu

Fulan : nampaknya tidak mudah menyatukan umat Islam

Saya : sulit bukan berarti tidak mungkin. Bila Allah berkehendak...

Ia mmberika secarik kertas bertuliskan emailnya, dan sebuah pesan "mollah, jangan lupaka kami". Kuberikan sebuah buku saku tentag amalan dzikir dalam penjara kutuliskan nama dan ia meminta fotoku. Kutuliskan pula sebuah pesan "jangan bermaksiyat"
dua bulan setelah mereka diberangkatkan ke negeri tujuan, kumendengar sebuah berita tentang kapal pengungsi yang tenggelam di selatan wilayah Trenggalek. Beberapa korban yang selamat kukenali, bahwa mereka orang orang yang pernah tinggal satu blok denganku ....

Senin, 27 Mei 2013

FAKTA Dokumen Sejarah Permaisuri Austria Ber-HIJAB (VIDEO)

Taukah Anda, berikut ini adalah Dokumen Sejarah tahun 1900-an,
tentang Kenangan manis ketika Islam masih menguasai Benua Eropa
(pada masa Khilafah Utsmaniyah).

Gambar ini memperlihatkan sang Istri Kaisar yang terlihat menggunakan pakaian “Kebesaran” ketika melakukan kunjungan bersama Suami dan Anaknya.

Di sampingnya (Sang Kaisar) ada puteri dan permaisurinya memakai niqab (cadar)dengan sempurna. Kenapaaa itu bisa terjadi ???
Karena dia seorang RATU, maka tak layak dipertontonkan wajahnya di hadapan para rakyatnya.
selain itu karena mengikuti kebiasaan muslimah (red- wanita Islam yang Mulia),
sebab waktu itu kaum muslimin mendominasi dunia di zaman khilafah Utsmaniyah
Sehingga kebiasaan mereka menjadi trend dan panutan di dunia. subhanaLLaaaah…
=tulisan ini disunting kembali oleh Bang Ori Gagah=

Bagaimana dengan sekarang ???

Adapun sekarang, dunia didominasi oleh kaum yg wanitanya suka telanjang dan murah memamerkan auratnya, lalu kaum muslimin menjadikan kebiasaan itu sebagai trend, inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un

lihat film dokumenternya disini 

Kamis, 23 Mei 2013

Separah itukah Penyimpangan Penguasa ARAB SAUDI ?

Kota Makkah mengalami transformasi yang luar biasa selama 10 tahun ini. Lokasi Masjidil Haram ditata ulang, dan bermunculan gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang berkelas internasional.

Situs-situs bersejarah di Mekkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam, secara sistematis diboldozer. Situs-situs itu dibabat demi melapangkan jalan bagi pembangunan gedung-gedung pencakar langkit, hotel-hotel, dan pusat-pusat perbelanjaan Mewah dan gemerlap, Satu kamar hotel saja memasang tarif termurah 500 dolar AS untuk satu malam. Kemewahan yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang berduit. Padahal, Nabi menginginkan Mekkah menjadi tempat dimana Muslim harus diperlakukan sama dan setara.

Dalam sebuah tulisan feature, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci. "Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya dimana kapitalisme secara kasat mata mengaburkan nilai spiritualitas kota," tulis mereka, mengutip kata-kata seorang kritikus.

Harian ini menyoroti, betapa demi membangun kota yang kini 'serupa Las Vegas', banyak bangunan bersejarah yang dikorbankan. "Tak ada yang memperjuangkan aksi vandalisme budaya ini," kata  Dr Irfan al-Alawi, Direktur Eksekutif The Islamic Heritage Research Foundation.

"Kami sudah kehilangan 400-500 situs bersejarah. Saya harap belum terlambat untuk menyelamatkan yang tersisa."

Sami Angawi, pakar arsitektur Islam Arab saudi, sama-sama prihatin. "Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Makkah dan kesucian rumah Allah," katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini.

"Kedua kota [Makkah dan Madinah] secara historis hampir punah. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit."

Kekhawatiran dr Alawi yang paling mendesak adalah ekspansi yang direncanakan senilai miliaran dolar AS dari Masjidil Haram, situs paling suci dalam Islam dimana Kabah berada. Konstruksi resmi dimulai awal bulan ini. Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berseru bahwa proyek ini akan menghormati "kesucian dan kemuliaan dari Masjid Suci, dan demi kepentingan jamaah."

Area perluasan sekitar 400 ribu meter persegi tengah dibangun untuk mampu meningkatkan daya tampung  1,2 juta jamaah lagi tiap Musim Haji tiba. Pembangunan ini, menurut The Islamic Heritage Research Foundation, bukan tanpa risiko. Lembaga ini menyusun daftar situs sejarah yang terancam diratakan dengan tanah akibat pembangunan ini, termasuk bangunan sisa-sisa peninggalan era Usmaniyah dan Abbasiyah. Termasuk dalam bangunan yang terancam dihancurkan adalah rumah di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan rumah pamannya, Hamzah, tumbuh.

Argumen yang selalu dikemukakan, tulis The Independent, adalah bahwa Makkah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Dua belas juta peziarah mengunjungi kedua kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas situs ziarah telah memungkinkan pihak berwenang untuk menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. Lembaga yang dipimpin Alawi mencatat setidaknya 95 persen bangunan bersejarah yang berusia ratusan tahun telah dibongkar dalam dua dekade terakhir saja.

Lebih jauh, media asing ini juga menunuh paham paham Wahabi ikut merusak tempat bersejarah. Dengan alasan takut menjadi ajang sirik, bangunan bersejarah diratakan.

Sedikit catatan dari The Independent: Untuk membangun kota pencakar langit di Makkah, sebuah gunung dibom dan diratakan, menghancurkan Benteng Ajyad di era usmaniyah yang berdiri di atasnya. Lalu, rumah Khadijah istri pertama Nabi telah berubah menjadi blok toilet masjidil Haram, sedang rumah tempat lahirnya bahkan diratakan begitu saja.

Alawi berharap masyarakat internasional 'terbangun dari tidurnya' dan melihat apa yang terjadi terhadap warisan sejarah Islam di Makkah. "Kami tidak akan mengizinkan seseorang pun untuk menghancurkan Piramida, jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam lenyap?" katanya.

Rabu, 22 Mei 2013

SUAMI DAMBAAN BIDADARI (Siapakah Dia ?)

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

“Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Sahabat Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud.




* * * * *

Ketika Mekkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badar dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badar dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.

Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.

Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir. Justru dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasud dengan kenabian Muhammad. Tak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam.

Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.

Di tengah kesibukkannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamika, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fase kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada nikmat karunia Allah yang tak mungkin terlewatkan.

Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.

Sementara itu Madinah dalam keadaan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rencana penyerangan oleh pasukan Abu Shufyan. Situasi Madinah sangat genting.

Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran sosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan.

Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi saw untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang baru saja dinikahinya.

Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Indah…

Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma asmara, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.

“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama surgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan diri dari sang istri.

Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, supaya ia bisa mandi terlebih dahulu. Istrinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid,

Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw.

Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubayr, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan yel-yel, seolah tak ada lagi yang bisa menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, surban merah Abu Dujanah, surban kuning Zubayr, surban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda melesat secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan efek bak hempasan angin puting beliung.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan.

Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.

Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufyan melihat lelaki yang gesit itu. Dia ingin sekali mendekat dan membunuhnya, tetapi nyalinya belum juga cukup untuk membalaskan dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan terpaksa melayaninya dalam duel satu lawan satu. Abu Sufyan terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.

Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, behasil menelikung gerakan hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, boom!!! Para sahabat yang berada di sekitar dirinya mencoba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti.

Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru.

Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.

Semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga tejadi hujan lokal dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelebat mengiringi tetesan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan.

Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tak pernah turun mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.

Begitu wanita yang dimaksud tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”
Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”

Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS 61:10-12).

Sumber: dari ‘Yas’alunaka Fiddiini wal Hayaah’ yang diterjemahkan menjadi “Dialog Islam” karya Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi (dosen Universitas Al-Azhar, Cairo), Penerbit Zikir, Surabaya, 1997, cetakan pertama

Kamis, 07 Maret 2013

re-view VIDEO HEBOH - MALAIKAT terlibat ditengah REVOLUSI SURIAH

Dipublikasikan pada 5 Mei 2012
di gagahchannelberikut rekaman video yg menarik perhatian 202 ribu lebih pengunjung.

Situs Mujahidin Kavkaz Center merilis laporan tentang rekaman video di Suriah yang telah diposting di internet. Dalam video tersebut menunjukkan seorang laki-laki yang tertembak, terluka atau gugur - tidak jelas apakah pria itu masih hidup atau telah syahid - tergeletak di jalan. Orang-orang sekitar bersembunyi dan tidak dapat mendekati dan menolong saudaranya karena jalanan dihujani tembakan oleh pasukan rezim Syi'ah Nushairuyah, bala tentara Bashar Assad.

Banyak teriakan disana, orang-orang yang berada disekitar sibuk dengan keadaan yang genting dan tidak tahu bagaimana harus membantu pria tak berdaya itu. Pada saat itu, seorang sosok misterius yang memakai pakaian serba putih mendekati pria yang tak berdaya itu dari belakang. Tingkahnya nampak aneh dan sangat tenang, tidak menampakkan emosi atau ketakutan apapun.
Seperti yang ditunjukkan oleh saksi mata di tempat kejadian, sosok tak dikenal yang memakai jubah putih tanpa noda itu, yang sungguh tidak terlihat sama sekali seperti dalam situasi perang, yang kotor, berdebu dan ekspresi kepanikan atau ketakutan karena gencarnya penembakan dan penghancuran.

Sumber-sumber di Suriah mengatakan bahwa ini bukan satu-satunya kejadian misterius yang pernah terjadi di Suriah, saksi mata pernah melihat beberapa sosok misterius dengan pakaian serba putih, yang berpartisipasi dalam pertempuran atau terjadinya pembantaian di Suriah oleh pasukan Alawiyah pimpinan Bashar Assad terhadap kaum Muslimin. Cerita ini hanyalah salah satu dari sejumlah dokumen langka yang terekam kamera.

Kaum Muslimin bertanya-tanya: Siapakah sosok-sosok misterius itu? Mujahidin atau Malaikat?

Hanya Allah yang Tahu
http://www.al-khilafah.org/2012/05/so...
Allahu a'lam bishawab

Cari disini

Translate (Penterjemah)

Followers