Rabu, 29 Mei 2013

Liku Jalan Taubatku (The Amazing Hidayah)


oleh: Al Fajr Batik ( pada 3 Agustus 2012 pukul 0:55)

Sebut saja nama dunia hitam yang pernah kamu tahu, itu semua pernah kualami. Mulai dari dunia anak jalanan yang akrab dengan kekerasan, miras (minuman keras), hingga narkoba baik sebagai pecandu maupun pengedar telah pernah menjadi bagian hidupku. Dunia panggung yang sering membikin cewek-cewek ABG histeris juga pernah kulakoni sebagai vokalis band local yang sering manggung di kafe-kafe sekitar kota tempatku tinggal.

Satu hal yang benar-benar aku syukuri hingga saat ini adalah penjagaan Allah terhadapku bahkan ketika aku masih begitu jahiliyah adalah aku tak pernah terjerumus dalam pergaulan bebas. Histerianya cewek-cewek ABG itu bukan membuat aku merasa tersanjung dan melambung tapi malah membuatku muak. Perasaan seperti inilah yang terus melekat sehingga ke depannya aku merindukan sosok perempuan yang terjaga dan tidak kampungan seperti itu.

Aku lelah dengan jalan yang kutempuh selama ini. Dunia gemerlap tak membuatku bahagia. Aku pun lari ke gunung dan berusaha berkontemplasi disana sekaligus mengukir prestasi. Sembari menjadi instruktur pendakian yang memandu anak-anak kota yang manja, aku pun tenggelam dalam perenunganku sendiri ketika sampai di puncak. Di tengah dingin dan heningnya malam dan ditemani berbatang-batang rokok, aku mencari batu besar agar terlihat jelas semua yang ada di bawah sana.

Rumah-rumah dan bangunan megah terlihat begitu kecil dari puncak gunung. Lalu bagaimana lagi dengan diri manusia ini? Aku berusaha mencari jawaban atas pertanyaan besar tentang untuk apa aku hidup di dunia ini dan kemana aku nanti setelah semua ini berakhir. Siapa pula pengatur di balik semua ini yang memberikan kehidupan begitu pahit dan getir untuk kujalani? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggedor sudut hatiku untuk dipenuhi dengan jawaban memuaskan. Benakku begitu ramai di tengah kesepian ini, namun aku kesepian di tengah keramaian hingar-bingar panggung pertunjukan. Aku tersesat dalam pencarian yang belum kutemukan ujung pangkalnya.

Hingga di satu titik, aku memandang adik perempuan semata wayang. Tak mungkin aku begini terus. Aku harus bisa menjadi contoh yang baik untuknya. Aku pun tak lagi ingin memberinya makan dari uang haram hasil penjualan narkoba dan manggung di forum maksiat. Aku harus berubah. Tekad itu kupancangkan sedemikian kuat agar meresap ke seluruh nadi dan pori-poriku.

Aku bertarung melawan diriku sendiri. Aku bertarung melawan rasa sakaw yang teramat sangat. Aku berusaha lepas dari ketergantungan ini dulu sebelum aku menata kehidupanku. Sambil berproses untuk sembuh dari ketergantungan, aku pun mulai membiasakan sholat lima waktu sehari. Tidak mudah tapi bukan sesuatu yang mustahil. Aku pun menjauhi dunia panggung hiburan dan lingkungannya. Meskipun rasa rindu untuk bernyanyi itu ada, tapi rasa itu terkalahkan oleh rasa rinduku akan jalan taubat yang sedang kutapaki ini.

Aku pun mulai meniti jalan halal meskipun hasilnya sangat jauh bila dibandingkan dengan berjualan bubuk-bubuk maksiat itu. Tak jarang aku harus tidur di masjid karena tak berani pulang bila tak membawa uang. Malam-malam kulewati dengan mengisi perut dengan sebanyak mungkin air kran masjid karena seharian itu Allah menguji kesabaranku dengan minimnya materi yang kudapat di jalan halal ini. Kerasnya lantai ubin masjid terasa dingin dan akrab di punggungku yang tipis.

Hidup dari masjid ke masjid, itulah proses pencarianku. Aku bertanya pada banyak takmir masjid yang kusinggahi tentang hidup, kehidupan dan juga tentang Islam itu sendiri. Meskipun tak semua takmir masjid yang kutemui bisa menjawab kegelisahanku, tapi aku pantang menyerah. Kujaga terus sholat fardhu lima waktu agar bisa berjamaah di masjid. Langkah awal yang semula tak mudah buatku tapi kutekadkan untuk konsisten.

Pelan tapi pasti aku mulai merasakan manisnya iman meskipun hidup dalam kondisi serba kekurangan. Kemampuan mereparasi HP menjadi modal untuk mengais risky di jalan yang halal. Sesekali aku meminta diberi kepercayaan agar membawakan barang dagangan kenalan untuk kujualkan. Apa saja mau kulakukan asalkan halal. Aku pun sempat bekerja di toko HP milik orang Cina sebelum bertemu dengan teman SMP yang kemudian mengajakku bergabung di usaha yang baru dirintisnya.

Kurang lebih setahun aku bekerjasama dengan temanku ini. Sedikit banyak aku menimba wawasan keislaman juga padanya. Ia juga yang mengajakku mengaji Islam dengan lebih intensif. Mengaji Islam yang bukan sekadar sebagai ritual tapi juga sebagai way of life. Ia juga yang memperkenalkan kehidupan dakwah padaku. Meskipun sangat disayangkan, teman ini pula yang nantinya juga meninggalkan apa yang pernah diajarkannya padaku. Sungguh, Allah Maha pembolak-balik hati. Karena itu Ya Rabb, mantapkan hati ini di jalan-Mu.

Aku tak punya siapa pun yang bisa kupercaya di dunia ini. Ketika aku bertemu teman masa SMP yang mengajakku mengenal Islam lebih baik, kepercayaan itu mulai kusandarkan padanya. Ia pula yang meyakinkanku akan sunah Rasulullah untuk menikah ketika kuungkapkan padanya bahwa aku mungkin tidak akan menikah dalam waktu yang lama karena mengingat betapa miskinnya aku dan keluargaku. Ketika akhirnya Allah mempertemukan aku dengan jodohku, ternyata ia berbalik 180%. Ia berpaling dariku dan berkata hal-hal buruk tentangku kepada calon istriku saat itu dan juga teman-temanku yang lain.

Allah Mahabaik, itu kuyakini sekali. Teman yang mulai kupercaya berkhianat, Allah mengganti dengan yang lebih baik yaitu teman sejati dalam suka dan duka termasuk juga dunia dan akhirat, insya Allah. Kami pun menikah dalam kondisi sangat sederhana dan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim dan fakir miskin.

Proses taubatku dimudahkan oleh-Nya. Saat ini ada istri yang selalu ada untuk mengingatkan di kala aku futur. Kesucian yang selalu kujaga tak peduli sekelam apa pun perjalanan hidupku di masa lalu, diberi balasan yang jauh lebih baik oleh Allah yaitu berupa istri yang juga terjaga kesuciannya. Manisnya iman ini sedemikian indah untuk dikecap. Allah, sungguh indah anugrah-Mu ini. Kan kugenggam hidayah ini erat-erat selamanya tanpa pernah kulepaskan lagi. Bantu hamba-Mu yang dhaif ini Ya Rabb…

(Surabaya, medio akhir April 2011)

Catatan Pengungsian (al Ghuraba`)


Oleh: Bahrun Naim (pada 9 Agustus 2012 pukul 14:01)

Akhir tahun 2011 lalu, penjara tempatku ber uzlah kedatangan sebuah 'tamu' rombongan negara. Yaitu para pegungsi yang mencari suaka dari negara Afghanistan, Pakistan, Uzbekistan, Iraq, dll. Mereka berjumlah sekitar 180orang dan dipisahkan antara pengungsi pria dan wanita. Sebuah ironi ternyata, orang yang masuk ke dalam penjara memang belum tentu orang yang bersalah. Mereka tidak bersalah secara hukum, namun justru ditempatkan di sel penjara. Beberapa diantara mereka berusaha untuk lari melompati tembok penjara setinggi 5 meter.

Kebetulan sel tempatku menginap berada di ujung blok, melewati dua sel tempat para pengungsi tersebut berada. Mereka tinggal selama sebulan di penjara itu. Awalnya mereka ketakutan ketika kusapa, mereka menyangka aku termasuk taliban. Ku ketahui teryata diantara mereka pernah jadi 'korban' ketegasan Taliban. Mungkin barangkali setiap ku berangkat ke masjid mereka memperhatikanku yang berangkat mengenakan gamis, tidak seperti napi lainnya. Apalagi kasus sandiwara yang kuhadapi pada awalnya dituduh hendak menembak Obama presiden AS pada waktu itu yang berkunjung ke Indonesia tahun 2010 silam.

Awalnya pula, pihak petugas merasa kesulitan berkomunikasi dengan para pengungsi tersebut yang kebanyakan berbahasa arab, inggris, pastun, maupun urdu. Sehingga tiap ada komunikasi, petugas memanggilku sebagai translator dadakan. Tentu dengan kemampuan bahasa ala kadarnya, sekedar mengikuti situs berbahasa asing maupun menterjemahkan kitab-kitab asing.

Dari situlah, saya bertukar pemikiran degan para pengungsi tersebut. Diantara mereka ada yang berasal dari Iraq, tepatnya dari wilayah Basrah. Sebut saja namanya Bobby. Bobby tidak bisa berbahasa apapun kecuali arab saja. Ada pula pengungsi bernama ashraf dari Afghanistan. Ataupun Ahmad dari Uzbekistan, maupun Yusuf dari Pakistan.

Awalnya ku mendekati mereka sekedar mereka senantiasa menegakkan sholat dan meninggalkan maksiyat. Bisa dibayangkan pengungsi yang berhari hari tanpa salah dipenjara dalam sebuah sistem bernama badan PBB. Awalnya mereka nampak tidak menerima keadaan dimasukkan di jeruji penjara laksana pesakitan. Hari harinya dihabiskan hanya dengan melamun, dan merokok. Hingga akhirnya sholat mereka kembali tegak meski dibalik jeruji penjara.

Keadaanku jauh lebih baik. Karena setelah vonis, para narapidana bebas berkeliaran di sekeliling penjara. ada yang beraktifitas di bengkel kerja, ataupun di kantor kantor petugas sebagai tenaga pendamping maupun cmn sekedar ngendon di masjid untuk beribadah.

Dengan itulah perlahan mereka mulai terbuka, hingga suatu hari saya dipanggil mereka dengan sebutan Mollah. Mereka suka bercerita tentang keadaan mereka, anak istri mereka, dan cita-cita mereka. Mensenandungkan lagu lagu mereka, yang terkadang saya pun tak bisa memahami dialek mereka yang cepat dan heroik. Saat itulah kumencoba mengajarkan mereka dengan nasyid nasyid jihad. Sehingga seorang pengungsi dari Iraq pun menangis dengan sebuah lirik nasyid 'ya ayyuhas syahid'. Dia bertanya, dari manakah aku belajar lirik tersebut. Dari situlah mereka mulai akrab denganku.

Bobby menceritakan tentang wilayahnya, kerusakan negerinya akibat invasi AS, dll

Saya : saudaraku, musuh kita pada hakikatnya sama. Yaitu orang yang menjadikan negerimu hancur.

Bobby : itulah kenapa aku memilih keluar dari Iraq.

Saya : saudaraku, kotamu adalah kota para ulama. kota para pejuang, mengapa kau tinggalkan wilayah tersebut?

Bobby : karena iraq telah hancur.

Saya : di negeri ini saudaraku, hampir tidak ada kata penduduknya mengungsi. kami negeri pejuang pula yang akan tetap bertahan sampai darah penghabisan

ku lanjutkan. "Kami justru mencari kesyahidan, lupakah engkau lari dari pertempuran sama dengan membawa murka Allah".

Ia termenung lama, hingga meneteskan air mata. Kemudian ia bercerita tentang anak istrinya yang telah tiada. Aku nasehati dia untuk tetap dalam keimanan dalam negeri lain. Dan kembali melanjutkan fisabilillah dimanapun berada. Ia mengangguk keesokan harinya ia menampakkan kecerahan dan ingin senantiasa berbincang denganku.

Di lain waktu ada pengungsi dari Afghanistan, sebut saja namanya Ashraaf. Dia mengaku sebagai korban Taliban. Awalnya ia ketakutan bertemu denganku, namun akhirnya ashraaf mulai membuka diri.

Ashraaf : mollah, knp engkau dipenjara? tanyanya

Saya : fitnah akhi, fitnah akhir zaman, saya dituduh hendak menembak Obama.

Ashraaf : Obama presiden AS

Saya : begitulah fitnah mereka. Alhamdulillah, makar Allah lebih canggih. Saya sekedar mengaminkan apa yang menjadi keinginan mereka. Bisa jadi suatu saat Obama akan terbunuh

Ashraaf : Mengapa kau lakukan itu?

Saya : Obama, 1. pemimpin negeri kafir harb , 2. murtad dari agama nenek moyangnya.

Ashraaf : bukankah Obama 'muslim'

Saya : tidak ada negeri yag bersekutu dengan AS yang mampu sejahtera.

Ashraaf : mengapa engkau tak mengajar mengaji saja?

saya : setiap ilmu ada amalnya akhi. dan amal tertinggi dalam islam adalah fisabilillah

Ashraaf : apakah engkau kecewa dengan keadaan ini?

Saya : tidak, insya Allah, wal hamdulillah. Keadaan ini keadaan para ulama. Bagaimana denganmu ashraaf? saya kira taliban tidak akan menderamu bila engkau tidak berbuat salah?

Ashraaf : sebenarnya iya (benar), namun mereka telah mensakiti saya.

Saya : apakah engkau rela disiksa di akhirat daripada di dunia?

Ashraaf : tentu tidak, namun sikap mereka tidak baik

Saya : Engkau bisa berpikir bagaimana afghanitan kini dan pada saat taliban ada.

Ashraaf : hm....

Di lain waktu, ku berdiskusi dengan pengungsi dari Uzbekistan, mereka fasih berbahasa arab. Ku mengenali mereka dengan postur wajah dan tubuh yang berbeda daripada pengungsi lainnya.

Saya : apakah engkau dari xinjian?

ahmad : tidak, kaum uzbek

Saya : ah... wilayah imam bukhori, atau syaikh samarkandi

Ahmad : kau mengenalinya juga?

Saya : tentu, seluruh wilayah kaum muslimin satu. Hampir tidak ada bedanya ulama dari Makkah dengan dari Uzbekistan. Indonesia maupun Cordobi (qurtubi, cordova).

kuberikan sebuah naskah khutbah jumat berbahasa arab yang mengangkat tema tentang khilafah. Ia nampak mengrenyitkan dahinya.

Ahmad : apakah khilafah ada disini?

Saya : khilafah belum tegak saudaraku...

Ahmad : maksdku dakwah khilafah

Saya : bukankah itu kewajiban setiap muslim?

Ahmad : ada sebuah peristiwa beberapa tahun silam di negeri kami...

Saya : iya, kami sudah mendengarnya... insya Allah tiada lama khilafah akan tegak saudaraku.

Ahmad : ... Ma sya Allah. (insya Allah maksdnya)

Saya : inilah sebab seluruh muslim menderita. Termasuk engkau

Dilain waktu pula, ku berbicara dengan seorang pemuda tampan dari Waziristan, Ma'rokatul mujahid.

Fulan : mollah, lets talk a momment?

Saya : baru kali ini ada yg mengajak bicara bhs inggris.

Fulan : ia nampak tertawa, what your case mollah.

Saya : saya dituduh teroris, hanya karena saya berdakwah

Fulan : koq bisa.. bagaimana ceritanya

Saya : pada hakikatnya sama, hampir di seluruh wilayah kaum muslimin. para penguasa berbuat dzalim. pasti di tempatmu juga

Fulan : ditempatku, penguasa tidak dapat apa-apa?

Saya : maksdnya?

Fulan : asing terlalu berkuasa

Saya : bukankah waziristan, wilayah mujahid...

Fulan : pada faktnya demikian, namun penguasa pakistan selalu menggunakan kekuatan asing untuk menyerbu wilayah kami

Saya : bagai induk ayam yang menyerahkan anaknya sendiri ya?

Fulan : betul..

Saya : itulah penguasa kita, kita hanya menunggu satu penguasa terbaik. Yaitu Imam Mahdi

Fulan : hm.. kau mempercayainya?

Saya : kami akan berperang di belakang al Mahdi

Fulan : bagaimana dengan taliban?

Saya : saya rasa seluruh kaum muslimin yg hanif akan bergabung dan bersatu

Fulan : nampaknya tidak mudah menyatukan umat Islam

Saya : sulit bukan berarti tidak mungkin. Bila Allah berkehendak...

Ia mmberika secarik kertas bertuliskan emailnya, dan sebuah pesan "mollah, jangan lupaka kami". Kuberikan sebuah buku saku tentag amalan dzikir dalam penjara kutuliskan nama dan ia meminta fotoku. Kutuliskan pula sebuah pesan "jangan bermaksiyat"
dua bulan setelah mereka diberangkatkan ke negeri tujuan, kumendengar sebuah berita tentang kapal pengungsi yang tenggelam di selatan wilayah Trenggalek. Beberapa korban yang selamat kukenali, bahwa mereka orang orang yang pernah tinggal satu blok denganku ....

Senin, 27 Mei 2013

FAKTA Dokumen Sejarah Permaisuri Austria Ber-HIJAB (VIDEO)

Taukah Anda, berikut ini adalah Dokumen Sejarah tahun 1900-an,
tentang Kenangan manis ketika Islam masih menguasai Benua Eropa
(pada masa Khilafah Utsmaniyah).

Gambar ini memperlihatkan sang Istri Kaisar yang terlihat menggunakan pakaian “Kebesaran” ketika melakukan kunjungan bersama Suami dan Anaknya.

Di sampingnya (Sang Kaisar) ada puteri dan permaisurinya memakai niqab (cadar)dengan sempurna. Kenapaaa itu bisa terjadi ???
Karena dia seorang RATU, maka tak layak dipertontonkan wajahnya di hadapan para rakyatnya.
selain itu karena mengikuti kebiasaan muslimah (red- wanita Islam yang Mulia),
sebab waktu itu kaum muslimin mendominasi dunia di zaman khilafah Utsmaniyah
Sehingga kebiasaan mereka menjadi trend dan panutan di dunia. subhanaLLaaaah…
=tulisan ini disunting kembali oleh Bang Ori Gagah=

Bagaimana dengan sekarang ???

Adapun sekarang, dunia didominasi oleh kaum yg wanitanya suka telanjang dan murah memamerkan auratnya, lalu kaum muslimin menjadikan kebiasaan itu sebagai trend, inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un

lihat film dokumenternya disini 

Tergesa-gesa dalam Islam dibolehkan atas 5 hal

Dalam kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, dikisahkan ada seorang sahabat yang bernama Hatim. Suatu saat ketika ia sedang melakukan transaksi jual beli dengan si fulan, fulan tersebut kentut namun sahabat Hatim diam saja tanpa memberi respon apa-apa. Anggapan si fulan, Hatim adalah orang tuli, koq ia kentut Hatim diam saja seperti tak mendengar. Seteleh berlalu, si fulan menceritakan kejadian tersebut kepada orang-orang yang berada di pasar. Orang-orang bertanya Hatim yang mana. Fulan menjawab: ”tuh, Hatim yang tuli (al-‘Ashom).” Sambil menunjuk kearah Hatim. Maka orang-orang menganggapnya Hatim al-‘Ashom (Hatim si tuli).  Lantas Hatim berkata: ”Jangan terburu-buru Kawan, mengatakan saya seperti itu. Tadi saya pura-pura tuli. Kalau saya jujur, saya takut membuat malu Anda.” Kemudian Hatim berkata lagi: “kita diajarkan untuk tidak tergesa-gesa (terburu-buru) dalam segala sesuatu kecuali dalam 5 (lima) hal yang disunnahkan Rasulullah SAW. yaitu:

  1. Menyuguhkan tamu. Kita harus segera menyuguhkan hidangan atau minuman ketika ada tamu menghampiri rumah kita. Suguhan ini harus segera malah kalau bisa sebelum tamu tersebut duduk di kursi.

  2. Mengurus mayyit. Jenazah orang mati harus segera diurus, tidak boleh ditunda-tunda lagi karena itu adalah hak mayyit juga untuk segera diurus. Dimandiakan, dikafani, disholati kemudian dikuburkan.

  3. Mengawinkan anak perempuan atau laki-laki bila sudah berumur dan sudah ketemu jodohnya. Sebagai orangtua memiliki kewajiban untuk segera menikahkan anak-anaknya yang sudah berumur dan ketemu jodohnya. Kalau anaknya ingin kawin jangan dicegah tapi kalau anaknya yang tidak mau kawin, suruhlah dengan segera.

  4. Membayar hutang kalau sudah jatuh tempo. Kalau sudah jatuh tempo, hutang kita harus segera dibayarkan. Begitu juga janji, kalau kita sudah janji harus segera kita tunaikan.

  5. Tobat dari setiap dosa yang telah diperbuat. Kita diperintahkan untuk segera bertobat atas dosa yang telah kita perbuat. Ketika kita berdosa, kita jangan santai, diam, slow atau apalah bahasanya sehingga kita lupa memohon ampun. Lama kelamaan, kalau dosa itu sudah menumpuk akan susah dihapus. Do’a kita tertolak karena ada himpitan dosa. Makanya dianjurkan segera bertobat tatkala kita melakukan perbuatan yang berdosa.

Sabtu, 25 Mei 2013

DOSA mana, Pegang BABI atau PACAR ???



Ditulis Oleh: Bang Ori Gagah
wa: 085263794009 - bbm: D34DD5C1

Ada yang becanda bertanya " Malam Minggu ini Mau jalan sama PACAR atau sama BABI ???", lalu yang ditanya malah balik nanya " lho... apa maksudnyaaa ??? ",
mari coba baca dan pahami maksud hadis berikut:

Hadis Rasulullah SAW:
"Berkumpul-kumpul dengan Hewan BABI (khinzir) lebih baik daripada bersentuhan (secara Sengaja) dengan wanita yang bukan Muhrim (HR. Ibnu Majah).

coba ANDA Fikirkan kalau kita tersentuh BABI/ ANJING kita tidak bakal berdosa, paling disuruh mensucikan dengan tanah, Sedangkan jika bersentuhan dengan wanita bukan mahram secara sengaja ini dihitung sebagai dosa (maksiat).

Coba simak & Pahami Hadits Ma’qil bin Yasar Radhyiallahu ‘Anhu :

لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ar-Ruyani dalam Musnad-nya no.1282, Ath-Thabrani 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqi dalamSyu’abul Iman no. 4544 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226).

Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram adalah dosa besar (Nashihati lin-Nisa' hal.123)

Berkata Asy-Syinqithy dalam Adwa` Al-Bayan (6/603): “Tidak ada keraguan bahwa fitnah yang ditimbulkan akibat menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram lebih besar dan lebih kuat dibanding fitnah memandang”.

Berkata Abu ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Al-Makky Al-Haitami (Az-Zawajir 2/4) bahwa: “Dalam hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh dan berjabat tangan dengan selain mahram adalah termasuk dosa besar”.

kalau diperhatikan lagi, BABI adalah hewan yang amat sangat kotor, bisa dikatakan hina lah. Jadi Pleaeseeeee Jangan Lebih menghinakan diri dari pada Hewan BABI tersebut sahabat, kalau tidak tau selama ini, tidak apa-apa, tapi sekarang sudah tau kan ^_^ ayo segera hentikan aktivitas PACARAN tersebut !!!

PELAKU PACARAN, SEGERALAH BERTAUBAT !!!
PUTUSKAN PACARMU SEKARANG JUGAAAAAA

artikel terkait: Dilarang Pacaran BUKAN Dilarang Jatuh Cinta

KENALILAH RAMPOK dan “RAMPOK” X FACTOR INDONESIA

RAMPOK
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah “orang yg mengambil dng paksa dan kekerasan barang milik orang”. lihat disini

Sementara "RAMPOK" di X FACTOR adalah Gelar yang diberikan kepada anak asuh Juri X Factor Bebi Romeo.

dan tulisan ini pun dimulai pada suatu malam,
biasanya jum`at malam sich, sebuah komplek sudah sepi, jalanan pada tampak lengang, kenapa??? karena hampir semua warga komplek tersebut telah berkumpul pada satu titik didepan benda persegi empat, dalam berbagai ukuran dan jenisnya. Yupzzz orang sekarang bilang TV LCD atau LED, whatever lah apapun namanya gak perlu dibahas lama-lama, karena yang menjadi perhatian besar dan antusiasme warga pada malam itu adalah melihat siapa yang keluar menjadi Pemenang pada Ajang Bakat X-FACTOR di salah satu stasiun televisi ternama.

Penampilan Fatin mendapatkan apresiasi positif dari para juri. Bahkan Bebi Romeo yang tak pernah memberikan pujian dengan titel “Rampok” kepada anak didiknya kali ini ia memberikan pujian tersebut kepada Fatin.

Fatin kamu RAMPOOOKK!! Tetap berjuang karena sainganmu malam ini berat,” teriak Bebi Romeo.


Perbincangan terjadi dari berbagai tempat, mulai dari Warung, Pos Satpam, Rumah, Handphone TV, atau TV online juga menjadi akses tak terbatas untuk bisa mengakses acara spektakuler tersebut, meskipun Pemenang X FAXCTOR malam tadi sudah Jelas, bahkan sudah menjadi perbincangan media entertaint, siapa lagi kalau bukan gadis 16 tahun, Fatin Shidqia Lubis. Tak tanggung-tanggung malam itu juga Fatin berhdapan dengan RAMPOK nya Bebi Romeo, nah…. Disini nih masalahnya timbul, sejak beberapa minggu bahkan bulanan lalu, ketika Bang Bebi Romeo menelurkan istilah “RAMPOK” untuk anak asuhnya di X Factor, terjadilah Krisis Kosata Kata atau bahkan Kerancuan Identitas dalam memaknai kata “RAMPOK” (meski saya bukan RAMPOK), namun Kata RAMPOK yang disematkan oleh Papa Bebi Romeo kepada Anak Asuhnya menjadi kata yang begitu “WOW” oleh sebagian besar masyarakat, salah satunya sekomplek warga yang saya bicarakan tadi.

Taukah Anda, identitas “RAMPOK” saat ini juga agak bergeser, Teriakan RAMPOK tidak begitu “ngeh” lagi untuk menjadi Perhatian Serius yang disertai dengan Aksi Kejar-kejaran dan suasana Tegang, namun Teriakan RAMPOK saat ini menjadi sangat lambat untuk di respon, karena harus terselip oleh Beberapa Musisi yang di asuh oleh Papa Bebi Romeo, seperti Novita Dewi dkk. Lalu apa masalahnyaaaa ???

sebenarnya gak masalah-masalah amat sich, Cuma pernahkah terbayang oleh Anda, ketika aksi RAMPOK benar-benar terjadi disebuah rumah, kemudian ada yang teriak “RAMPOOOOK…. RAMPOOOOK”, dan Beberapa Warga yang tidak melihat, mungkin didalam rumah, nonton TV, balas sms, lagi nelpon, atau si Satpam lagi duduk di pos istirahat sambil nonton TV.
dan IRONIS nya meraka semua bakal berpikir:

yang didalam Rumah tadi bilang:  “Wah… masih juga teriak Rampok, padahal Fatin udah jelas-jelas jadi Pemenang, huh

yang nonton TV dirumah sebelah juga bilang: “Masih ada juga yg dukung “RAMPOK” yaach, mantap

yang balas SMS, justru nyelipin tulisan di smsnya: “Yank… keknya yg dukung “RAMPOK” masih eksis nich, pake teriak-terika juga, hahaha

yang lagi nelpon tadi malah Justru bilang: “Hoooiiii Berisik ah, bilang RAMPOK jangan keras-keras dong gue lagi curhat nich, bikin kaget aja loe

terkahir Sang Satpam yang denger di Posnya bilang: “Gilaaa bener, Pendukungnya “RAMPOK” solid banget”.

Naaaaahhh…. Kalau udah begini tuh RAMPOK beneran juga bakal Bilang “HIDUP RAMPOOOOOK”, sambil berlari dengan kain sarung yang berisi berbagai barang hasil RAMPOKannya , Oalaaaaaaah -_-

#Jangan ditanggapi serius yaaa, ini hanya Opini Usil gue (Bang Ori Gagah) aje. Mumpung sore masih panjang dan adik FATIN keluar sebagai Pemenang, hehehe

Padang, 25 Mei 2013. 15:50 WIB di saat nyantai bikin skripsi.



Catatan: Bagaimana pun Juga yang namanya RAMPOK adalah aktivitas Kriminal & Kekerasan yang harus di TANGKAP !!!
Tingkatkan Kewaspadaan ANDA dan Tingkatkan Antusias Anda, Waspadalah !!! Waspadalah !!!

Kamis, 23 Mei 2013

Separah itukah Penyimpangan Penguasa ARAB SAUDI ?

Kota Makkah mengalami transformasi yang luar biasa selama 10 tahun ini. Lokasi Masjidil Haram ditata ulang, dan bermunculan gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang berkelas internasional.

Situs-situs bersejarah di Mekkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam, secara sistematis diboldozer. Situs-situs itu dibabat demi melapangkan jalan bagi pembangunan gedung-gedung pencakar langkit, hotel-hotel, dan pusat-pusat perbelanjaan Mewah dan gemerlap, Satu kamar hotel saja memasang tarif termurah 500 dolar AS untuk satu malam. Kemewahan yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang berduit. Padahal, Nabi menginginkan Mekkah menjadi tempat dimana Muslim harus diperlakukan sama dan setara.

Dalam sebuah tulisan feature, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci. "Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya dimana kapitalisme secara kasat mata mengaburkan nilai spiritualitas kota," tulis mereka, mengutip kata-kata seorang kritikus.

Harian ini menyoroti, betapa demi membangun kota yang kini 'serupa Las Vegas', banyak bangunan bersejarah yang dikorbankan. "Tak ada yang memperjuangkan aksi vandalisme budaya ini," kata  Dr Irfan al-Alawi, Direktur Eksekutif The Islamic Heritage Research Foundation.

"Kami sudah kehilangan 400-500 situs bersejarah. Saya harap belum terlambat untuk menyelamatkan yang tersisa."

Sami Angawi, pakar arsitektur Islam Arab saudi, sama-sama prihatin. "Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Makkah dan kesucian rumah Allah," katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini.

"Kedua kota [Makkah dan Madinah] secara historis hampir punah. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit."

Kekhawatiran dr Alawi yang paling mendesak adalah ekspansi yang direncanakan senilai miliaran dolar AS dari Masjidil Haram, situs paling suci dalam Islam dimana Kabah berada. Konstruksi resmi dimulai awal bulan ini. Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berseru bahwa proyek ini akan menghormati "kesucian dan kemuliaan dari Masjid Suci, dan demi kepentingan jamaah."

Area perluasan sekitar 400 ribu meter persegi tengah dibangun untuk mampu meningkatkan daya tampung  1,2 juta jamaah lagi tiap Musim Haji tiba. Pembangunan ini, menurut The Islamic Heritage Research Foundation, bukan tanpa risiko. Lembaga ini menyusun daftar situs sejarah yang terancam diratakan dengan tanah akibat pembangunan ini, termasuk bangunan sisa-sisa peninggalan era Usmaniyah dan Abbasiyah. Termasuk dalam bangunan yang terancam dihancurkan adalah rumah di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan rumah pamannya, Hamzah, tumbuh.

Argumen yang selalu dikemukakan, tulis The Independent, adalah bahwa Makkah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Dua belas juta peziarah mengunjungi kedua kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas situs ziarah telah memungkinkan pihak berwenang untuk menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. Lembaga yang dipimpin Alawi mencatat setidaknya 95 persen bangunan bersejarah yang berusia ratusan tahun telah dibongkar dalam dua dekade terakhir saja.

Lebih jauh, media asing ini juga menunuh paham paham Wahabi ikut merusak tempat bersejarah. Dengan alasan takut menjadi ajang sirik, bangunan bersejarah diratakan.

Sedikit catatan dari The Independent: Untuk membangun kota pencakar langit di Makkah, sebuah gunung dibom dan diratakan, menghancurkan Benteng Ajyad di era usmaniyah yang berdiri di atasnya. Lalu, rumah Khadijah istri pertama Nabi telah berubah menjadi blok toilet masjidil Haram, sedang rumah tempat lahirnya bahkan diratakan begitu saja.

Alawi berharap masyarakat internasional 'terbangun dari tidurnya' dan melihat apa yang terjadi terhadap warisan sejarah Islam di Makkah. "Kami tidak akan mengizinkan seseorang pun untuk menghancurkan Piramida, jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam lenyap?" katanya.

Rabu, 22 Mei 2013

Polling JILBAB BUKAN KERUDUNG !!!



Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung.

Kerudung dalam Al Qur`an surah An Nuur : 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya : khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah Al Ahzab : 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

[polldaddy poll="7119964"]

Jilbab dan kerudung merupakan kewajiban atas perempuan muslimah yang ditunjukan Allah dalam dua ayat Al-Qur’an yang berbeda.
Mengenai jilbab, Allah  menjelaskannya dalam surat Al-Ahzab ayat 59..

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak - anak perempuanmu dan isteri - isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab - jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

(Al-Ahzab : 59)

Dalam ayat ini, kata jalabib adalah bentuk jamak dari kata jilbab. Para mufassir memang berbeda pendapat mengenai arti jilbab ini.

Imam Syaukani berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada kerudung, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah). Ada yang berpendapat jilbab adalah semacam cadar (al-qinaa’), atau baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan. Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi, dari berbagai pendapat tersebut, yang sahih adalah pendapat terakhir, yakni jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan.

Jadi, jilbab itu bukanlah kerudung, melainkan baju panjang dan longgar (milhafah) atau baju kurung (mula`ah) yang dipakai menutupi seluruh tubuh di atas baju rumahan. Jilbab wajib diulurkan sampai bawah (bukan baju potongan), sebab hanya dengan cara inilah dapat diamalkan firman Allah (artinya) “mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Dengan baju potongan, berarti jilbab hanya menutupi sebagian tubuh, bukan seluruh tubuh.
Jilbab ini merupakan busana yang wajib dipakai dalam kehidupan umum, seperti di jalan atau pasar. Adapun dalam kehidupan khusus, seperti dalam rumah, jilbab tidaklah wajib. Yang wajib adalah perempuan itu menutup auratnya, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, kecuali kepada suami atau para mahramnya (lihat QS An-Nur : 31).

Sedangkan untuk kerudung (khimar), Allah SWT berfirman (artinya), “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”

(QS An-Nur : 31).

Dalam ayat ini, terdapat kata khumur, yang merupakan bentuk jamak dari khimaar. Arti khimaar adalah kerudung, yaitu apa-apa yang dapat menutupi kepala.

So kesimpulannya, jilbab bukanlah kerudung, melainkan baju jubah bagi perempuan,atau di Indonesia dikenal dengan nama gamis yang wajib dipakai dalam kehidupan publik.

Karena itu, anggapan bahwa jilbab sama dengan kerudung merupakan salah kaprah yang seharusnya diluruskan… 

Baca Juga Selengkapnya tentang:
JURUS-JURUS HIJAB Khusus MUSLIMAH

10 Ciri Pribadi Muslim (10 Muwashofat)

Istilah ini gak asing lagi bagi Para Santri, nah kamu yang bukan pentolan Pesantren juga pernah dengar istilah ini, yuk kita review kembali 10 Ciri Pribadi Muslim (10 Muwashofat)


1. Salimul Aqidah (aqidahnya bersih)
Akidah adalah asas dari amal. Amal-amal yang baik dan diridhai Allah lahir dari aqidah yang bersih. Dari sini akan lahir pribadi-pribadi yang memiliki jiwa merdeka, keberanian yang tinggi, dan ketenangan. Sebab, tak ada ikatan dunia yang mampu membelenggunya, kecuali ikatan kepada Allah swt. Seorang kader dakwah yang baik akan selalu menjaga kemurnian aqidahnya dengan memperhatikan amalan-amalan yang bisa mencederai keimanan dan mendatangkan kemusyrikan. Sebaliknya, selalu berusaha melakukan amalan-amalan yang senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
Aplikasi: Senantiasa bertaqorrub (menjalin hubungan) dengan Allah, ikhlas dalam setiap amal, mengingat hari akhir dan bersiap diri menghadapinya, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, dzikrullah di setiap waktu dan keadaan, menjauhi praktik yang membawa pada kemusyrikan.
2. Shahihul Ibadah (ibadahnya benar)
Ibadah, wajib dan sunnah, merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Allah swt. Kedekatan seorang hamba ditentukan oleh intensitas ibadahnya. Ibadah menjadi salah satu pintu masuk kemenangan dakwah. Sebab, ibadah yang dilakukan dengan ihsan akan mendatangkan kecintaan Allah swt. Dan kecintaan Allah akan mendatangkan pertolongan.
Aplikasi: Menjaga kesucian jiwa, berada dalam keadaan berwudhu di setiap keadaan, khusyu dalam shalat, menjaga waktu-waktu shalat, biasakan shalat berjamaah di masjid, laksanakan shalat sunnah, tilawah al-Qur’an dengan bacaan yang baik, puasa Ramadhan, laksanakan haji jika ada kesempatan.
3. Matinul Khuluq (akhlaqnya tegar)
Seorang kader dakwah harus ber-iltizam dengan akhlaq islam. Sekaligus memberikan gambaran yang benar dan menjadi qudwah (teladan) dalam berperilaku. Kesalahan khuliqiyah pada seorang kader dakwah akan berdampak terhadap keberhasilan dakwah.
Aplikasi: Tidak takabur, tidak dusta, tidak mencibir dengan isyarat apapun, tidak menghina dan meremehkan orang lain, memenuhi janji menghindari hal yang sia-sia, pemberani, memuliakan tetangga. Bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjenguk orang sakit, sedkit bercanda, tawadhu tanpa merendahkan diri.
4. Qadirul’alal Kasb (kemampuan berpenghasilan)
Kita mengenal prinsip dakwah yang berbunyi ”shunduquna juyubuna (sumber keuangan kita dari kantong kita sendiri)”. Yang berarti setiap kader harus menyadari bahwa dakwah membutuhkan pengorbanan harta. Oleh karena itu setiap kader dakwah harus senantiasa bekerja dan berpenghasilan dengan cara yang halal. Tidak menjadikan dakwah sebagai sumber kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi sumber penghasilan haram, menjauhi riba, membayar riba, membayar zakat, menabung meski sedikit, tidak menunda hak dalam melaksanakan hak orang lain, bekerja dan berpenghasilan, tidak berambisi menjadi pegawai negeri. Mengutamakan produk umat Islam, tidak membelanjakan harta kepada non-muslim.
5. Mutsaqaful Fiqr (pikirannya intelek)
Intelektualitas seorang kader dakwah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah. Sejarah para nabi juga memperlihatkan hal itu. Kita melihat bagaimana ketinggian intelektualitas Nabi Ibrahim, dengan bimbingan wahyu, mampu mematahkan argumentasi Namrud. Begitu pula kecerdasan Rasul dalam mengemban amanah dakwahnya, sehingga ia digelari fathonah (orang yang cerdas).
Aplikasi: Baik dalam membaca dan menulis. Upayakan mampu berbahasa Arab, menguasai hal-hal tertentu dalam masalah fiqih seperti shalat, thaharah dan puasa, memahami syumuliatul Islam, memahami ghazwul fikri, mengetahui problematika kaum nasional dan internasional, menghafal al-Qur’an dan hadits, memiliki perpustakaan pribadi sekecil apapun.
6. Qawiyul Jism (fisiknya kuat)
Beban dakwah yang diemban para kader dakwah sangat berat. Kekuatan ruhiyah dan fikriyah saja tidak cukup untuk mengemban amanah itu. Harus ditopang oleh kekuatan fisik yang prima. Sejumlah keterangan al-Qur’an dan Hadits menjelaskan betapa pentingnya aspek ini.
Aplikasi: Bersih pakaian, badan dan tempat tinggal, menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah, berolahraga, bangun sebelum fajar, tidak merokok, selektif dalam memilih produk makanan, hindari makanan/minuman yang menimbulkan ketagihan, puasa sunnah, memeriksakan kesehatan.
7. Mujahidu Linafsihi (bersungguh-sungguh)
Bersungguh-sungguh adalah salah satu ciri orang mukmin. Tak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa kesungguhan. Kesadaran bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat, dan kehidupan abadi adalah kehidupan akhirat, akan melahirkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi segala yang haram, menjauhi tempet-tempat maksiat, memerangi dorongan nafsu, selalu menyertakan niat jihad, hindari mengkonsumsi yang mubah, menyumbangkan harta untuk amal islami, menyesuaikan perkataan dengan perbuatan, memenuhi janji, sabar, berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
8. Munazham fi syu’unihi (teratur dalam semua urusannya)
Seorang kader dakwah harus mampu membangun keteraturan dalam kehidupan pribadi dan keluarganya agar bisa menghadapi persoalan umat yang rumit dan kompleks.
Apalikasi: Memperbaiki penampilan, jadikan shalat sebagai penata waktu, teratur di dalam rumah dan tempat kerjanya, disiplin dalam bekerja, memprogram semua urusan, berpikir secara ilmiah untuk memecahkan persoalan, tepat waktu dan teratur.
9. Haritsun ’ala waqtihi (efisien menjaga waktu)
Untuk menggambarkan betapa pentingnya waktu, ada pepatah mengatakan ”waktu ibarat pedang”. Bila tak mampu dimanfaatkan maka pedang waktu akan menebas leher kita sendiri. Seorang kader harus mampu seefektif mungkin memanfaatkan waktu yang terus bergerak. Tak boleh ada yang terbuang percuma.
Aplikasi: Bangun pagi, menghabiskan waktu untuk belajar, mempersingkat semua urusan (tidak bertele-tele). Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, tidak tidur setelah fajar.
10. Nafi’un Lighairihi (berguna bagi orang lain)
Rasul menggambarkan kehidupan seorang mukmin itu seperti lebah yang akan memberi manfaat pada lingkungan sekitarnya. Kader dakwah memberi manfaat karena setiap ucapan dan gerakannya akan menjadi teladan bagi sekitarnya.
Aplikasi: Melaksanakan hak orang tua, ikut berpartisipasi dalam kegembiraan, membantu yang membutuhkan, menikah dengan pasangan yang sesuai, komitmen dengan adab Islam di dalam rumah, melaksanakan hak-hak pasangannya (suami-istri), melaksanakan hak-hak anak, memberi hadiah pada tetangga, mendo’akan yang bersin.
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing. Wallahu`alam ^_^

SUAMI DAMBAAN BIDADARI (Siapakah Dia ?)

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

“Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Sahabat Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud.




* * * * *

Ketika Mekkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badar dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badar dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.

Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.

Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir. Justru dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasud dengan kenabian Muhammad. Tak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam.

Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.

Di tengah kesibukkannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamika, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fase kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada nikmat karunia Allah yang tak mungkin terlewatkan.

Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.

Sementara itu Madinah dalam keadaan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rencana penyerangan oleh pasukan Abu Shufyan. Situasi Madinah sangat genting.

Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran sosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan.

Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi saw untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang baru saja dinikahinya.

Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Indah…

Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma asmara, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.

“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama surgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan diri dari sang istri.

Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, supaya ia bisa mandi terlebih dahulu. Istrinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid,

Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw.

Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubayr, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan yel-yel, seolah tak ada lagi yang bisa menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, surban merah Abu Dujanah, surban kuning Zubayr, surban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda melesat secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan efek bak hempasan angin puting beliung.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan.

Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.

Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufyan melihat lelaki yang gesit itu. Dia ingin sekali mendekat dan membunuhnya, tetapi nyalinya belum juga cukup untuk membalaskan dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan terpaksa melayaninya dalam duel satu lawan satu. Abu Sufyan terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.

Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, behasil menelikung gerakan hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, boom!!! Para sahabat yang berada di sekitar dirinya mencoba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti.

Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru.

Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.

Semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga tejadi hujan lokal dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelebat mengiringi tetesan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan.

Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tak pernah turun mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.

Begitu wanita yang dimaksud tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”
Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”

Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS 61:10-12).

Sumber: dari ‘Yas’alunaka Fiddiini wal Hayaah’ yang diterjemahkan menjadi “Dialog Islam” karya Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi (dosen Universitas Al-Azhar, Cairo), Penerbit Zikir, Surabaya, 1997, cetakan pertama

Jurus-Jurus HIJAB Khusus MUSLIMAH !!!

Berikut beberapa alasan anak muda yang enggan berjilbab
dan sanggahan halusnya.
Semoga yang belum berjilbab mendapat hidayah.




1. Saya nggak mau jilbaban! Jilbaban itu kuno

“Lha, itu zaman flinstones, lebih kuno lagi, nggak pake jilbab”

2. Tapi kan itu hal kecil, kenapa jilbaban harus dipermasalahin?

“Yang besar2 itu semua awalnya dari perkara kecil yang diremehkan”

3. Yang penting kan hatinya baik, bukan lihat dari jilbabnya, fisiknya!

“trus ngapain salonan tiap minggu? make-upan? itu kan fisik? Dan Islam meyakini bahwa iman itu bukan hanya perkara hati, namun juga ditunjukkan dalam fisik atau amalan lahiriyah. Hati pun cerminan dari lahiriyah. Jika lahiriyah rusak, maka demikianlah hatinya”

4. Jilbaban belum tentu baik.

“Betul, yang jilbaban aja belum tentu baik, apalagi yang … (isi sendiri)”

5. Saya kemarin lihat ada yang jilbaban nyuri!

“So what? yang nggak jilbaban juga banyak yang nyuri, gak korelasi kali”

6. Artinya lebih baik jilbabin hati dulu, buat hati baik!

“Yup, ciri hati yang baik adalah pakek kerudung dan memakai jilbabin untuk tutup aurat”



7. Kalo jilbaban masih maksiat gimana? dosa kan?

“Kalo nggak jilbaban dan maksiat dosanya malah 2. Malah nggak jilbaban itu dosa besar.

8. Jilbaban itu buat aku nggak bebas!

“Oh, berarti lipstick, sanggul, dan ke salon itu membebaskan ya?”

9. Aku nggak mau dibilang fanatik dan ekstrimis!

“Nah, sekarang kau sudah fanatik pada sekuler dan ekstrim tidak mau taat”

10. Kalo aku pake jilbab, nggak ada yang mau sama aku!?

“Banyak yang jilbaban dan mereka nikah kok”

11. Kalo calon suamiku gak suka gimana?

“Berarti dia tak layak, bila didepanmu dia tak taat Allah, siapa menjamin dibelakangmu dia jujur? Dan ingatlah al khobitsaatu lil khobitsiin, perempuan rusak ditakdirkan dengan lelaki yang sama. Demikian sebaliknya.”

12. Susah cari kerja kalo pake jilbab!

“Lalu enggan taat pada perintah Allah demi kerja? emang yang kasih rizki siapa sih? Bos atau Allah? Dan asalnya wanita itu berdiam di rumah: wa qorna fii buyutikunna (menetaplah kalian di rumah-rumah kalian)”

13. Ngapa sih agama cuma diliat dari jilbab dan jilbab?

“Sama aja kayak sekulerisme melihat wanita hanya dari paras dan lekuk tubuh”



14. Aku nggak mau diperbudak pakaian arab!

“Ini simbol ketaatan pada Allah, justru orang arab dulu (di zaman jahiliyah) gak pake jilbab. Syari’at jilbab ini untuk seluruh wanita, bukan hanya Arab sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Ahzab ayat 59: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“.”

15. Jilbab cuma akal2an lelaki menindas wanita.

“Perasaan yang adain miss universe laki2 deh, yang larang jilbab di prancis jg laki2

16. Aku nggak mau dikendalikan orang tentang apa yang harus aku pake!

“Sayangnya sudah begitu, tv, majalah, sinetron, kendalikan fashionmu”

17. Jilbab kan bikin panas, pusing, ketombean

“Jutaan orang pake jilbab, nggak ada keluhan begitu, mitos aja”

18. Apa nanti kata orang kalo aku pake jilbab?

“Katanya tadi jadi diri sendiri, nggak peduli kata orang laen…”

19. Jilbab kan nggak gaul?

“Lha mbak ini mau gaul atau mau menaati Allah?”

20. Aku belum pengalaman pake jilbab!

“Pake jilbab itu kayak nikah, pengalaman tidak diperlukan, keyakinan akan nyusul”

21. Aku belum siap pake jilbab

“Kematian juga nggak akan tanya kamu siap atau belum dear”




22. Mamaku bilang jangan terlalu fanatik!

“Bilang ke mama dengan lembut dan santun, bahwa cintamu padanya dengan mentaati Allah penciptanya”

23. Aku kan gak bebas ke mana-mana, gak bisa nongkrong, clubbing, gosip, kan malu sama baju!

“Bukankah itu perubahan baik?”

24. Itu kan nggak wajib dalam Islam!?

“Kalo nggak wajib, ngapain Rasul perintahin semua wanita Muslim nutup aurat?”

25. Kasi aku waktu supaya aku yakin jilbaban dulu

“Yakin itu akan diberikan Allah kalo kita sudah mau mendekat, yakin deh”.

###

Nah wahai saudariku muslimah, tunggu apalagi?



Mengenai kewajiban berjilbab sudah ditetapkan dalam Al Qur’an yang tiap hari kita baca, di mana Allah Ta’alaberfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Ayat ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah.

Ayat lain yang menunjukkan wajibnya jilbab,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, …” (QS. An Nur: 31).

Dalil yang menunjukkan wajibnya jilbab juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ ، وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلاَّهُنَّ . قَالَتِ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ « لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا »

Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata, “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890)

Dalam Lisanul ‘Arob, jilbab adalah pakaian yang lebar yang lebih luas dari khimar (kerudung) berbeda dengan selendang (rida’) dipakai perempuan untuk menutupi kepala dan dadanya.[1] Jadi kalau kita melihat dari istilah bahasa itu sendiri, jilbab adalah seperti mantel karena menutupi kepala dan dada sekaligus.



GAK ADA ALASAN BUAT GAK BERHIJAB!

Semoga Allah beri hidayah demi hidayah bagi yang belum berjilbab.

Cari disini

Translate (Penterjemah)

Followers