Featured Posts Coolbthemes

Rabu, 01 Maret 2017

Bersikap Adil Pada Raja Salman

Foto muda Raja Salman
oleh: Ust. Felix Yanwar


Bersikap adil itu artinya mendudukkan sesuatu secara seharusnya, tentu saja berdasarkan timbangan syariat, lawan kata adil adalah dzalim, yaitu tidak pada tempatnya

Adil itu berarti bersiteguh pada Islam dan melaksanakan Islam, menilai sesuatu dari sudut pandang Islam, hingga kita bisa memberi kebaikan pada sebagian besar manusia

Maka tak adil ketika kita mencintai seseorang lalu meninggalkan sikap kritis kita padanya, juga sama tak adilnya saat kita tak suka seseorang lalu menafikkan semua kebaikannya

Tiap kita punya potensi salah dan benar, punya dosa punya pahala, terkadang taat dan lain waktu maksiat, itulah mengapa Allah perintahkan saling menasihati diantara kita

Sebab kita tidaklah maksum, bahkan para ulama khawatir saat mereka diikuti dan disanjung manusia, khawatir Allah akan meminta pertanggungan atas pujian dan sanjungan

Saya senang dengan kunjungan Raja Salman selaku pemangku urusan dua tanah haram, yang saya khawatirkan, perilaku berlebih yang ditunjukkan beberapa kalangan

Sikap berlebihan dalam memuji dan menyanjung, bahkan sudah sampai merekayasa berita, dan menjatuhkan saudara seiman dan merusak ukhuwah, sungguh disayangkan

Seolah Sang Raja tak boleh dikritik, kunjungan Raja Salman tak boleh dianalisa, yang punya wacana lantas disamakan dengan liberal, syiah, bahkan kafir

Jika Islam yang diutamakan pastilah ukhuwah akan dijaga, tapi bila sudah manusia yang dijunjung jadilah berlebihan dan memecah-belah, jadi tak sehat samasekali

Alhamdulillah, saat saya belajar Islam sedari awal, senantiasa saya ditekankan. Islam itu syariat Allah, bukan perasaan, bukan suku, bukan ras, bukan warna kulit

Tapi alhamdulillah, ini euforia sambutan Raja Salman ini juga menunjukkan, bahwa ummat Islam di Indonesia sudah sangat berharap pada Islam

Ala kulli haal, ahlan wa sahlan Raja Salman, semoga kunjunganmu menjadi jalan bagimu untuk melihat, betapa kami merindukan tegaknya syariat Islam, termasuk berharap padamu

Kami berharap padamu sebab Allah karuniakan engkau kekuasaan di tempat Nabi kami berasal, kitab kami diturunkan, maka menjadi besarlah tanggungjawabmu akan Islam.

Minggu, 27 November 2016

Jomblo tiba tiba Menikah VS Pacaran tapi belum Menikah juga


Jomblo itu tidak enak tapi tidak enaknya cuma kadang-kadang, tidak enaknya pas lagi diledikin sama temen-teman dan ketika malam minggu karena semua yang punya pasangan pada keluar buat kencan, selebihnya semuanya nyama-nyaman aja menjadi jomblo.

Kalaupun boleh diberi pilihan, kamu pasti memilih untuk lama menjomblo tidak terdengar pacaran tapi langsung nikah. Daripada pacaran tapi tak juga nikah-nikah.

Dengar Kabar Temenmu Yang Jomblo Mau Nikah Kamu Pasti Kagetkan? Tapi Denger Kabar Temanmu Yang Gak Jomblo Mau Nikah Pasti Biasa-Biasa

Kamu pasti tidak akan kaget kalau dengar kabar temenmu yang tidak jomblo nyebar undangan. Tapi kamu pasti akan kaget begitu dengar kabar atau dapat undangat dari temenmu yang gak jomblo mau nikah?
Buat Kamu Yang Udah Punya Pasangan Jangan Sibuk Nanyain Kapan Punya Pasangan Sama Si Jomblo
Kamu gak tau kalau nantinya kamu bakalan didului sama si jomblo untuk nikah duluan. Karenanya jangan ikut-ikutan kepoin si jomblo kapan mau punya gebetan atau menyebut mereka tidak laku. Entar giliran dia ‘laku’ nemu pasangan dia akan duluan ke pelaminan.

Jangan Terlalu Bangga Pamer-Pamer Bahagianya Punya Pasangan di Hadapan Mereka Yang Jomblo Karena Memang Bikin Iri.

Saat kamu pamer punya pasangan itu enak, jomblo itu memang merasa iri tapi kadang-kadang tidak selalu. Mereka tidak akan iri sama kamu ketika kamu ribet harus bertengkar dulu sama pacarmu hanya karen ingin main atau kumpul sama teman-temanmu.

Bukankah Antara Jomblo Sama Yang Sudah Punya Pasangan Itu Memiliki Kesamaan?

Ada kesamaan antara kamu yang sudah punya pasangan sama mereka yang masih jomblo. Kesamaannya sama-sama masih belum menikah, dia yang saat ini sama kamu juga belum tentu bakalan jadi jodohmu, bisa saja pacarmu yang sekarang jodohnya temenmu yang sekarang sedang jomblo.

Bukankah Lebih Baik Jomblo Tau-Tau Nikah Daripada Pacaran Gak Nikah-Nikah.

Bukankah lebih baik sendiri aja dulu kalau memang tidak mau cepat-cepat menikah? daripada membuang-buang waktu pacaran kesana kemari, iya kalau ujung-ujungnya jadi jodoh kalau pada akhirnya putus? ngenes juga akhirnya, malah bakalan lebih ngenes dari yang sekarang ini dirasakan oleh para jomblo.

sumber: duapah

Hukum Shalat Jumat di Jalan Raya - Tanya ?


OLEH KH M SHIDDIQ AL JAWI 

Tanya :
Ustadz, sekarang lagi heboh persoalan boleh tidaknya sholat Jum’at di tanah jalan raya terkait aksi 2 Desember 2016. Apakah boleh ustadz? (Afrian Satria, Bantul).

Jawab :
Ada khilafiyah di kalangan ulama mengenai sah tidaknya sholat Jum’at di jalan raya. Persoalan ini dibahas para ulama dalam tema isytirath al masjid (persyaratan masjid), yaitu apakah untuk sahnya sholat Jumat syaratnya harus dilakukan di dalam masjid. 
Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Abadi pengarang kitab ‘Aunul Ma’bud mengatakan:

وذهب البعض إلى اشتراط المسجد قال : لأنها لم تُقم إلا فيه .وقال أبو حنيفة والشافعي و سائر العلماء إنه غير شرط

”Sebagian ulama memegang pendapat disyaratkannya masjid, karena sholat Jumat tak didirikan kecuali di dalam masjid. Sedangkan Abu Hanifah dan Syafi’i dan ulama lainnya memegang pendapat tak disyaratkannya masjid.” (‘Aunul Ma’bud, III/399). 
Imam Nawawi berkata dalam kitabnya Al Majmu’:

لا تصح الجمعة عندنا إلا في أبنية يستوطنها من تنعقد بهم الجمعة ولا تصح في الصحراء،و به قال مالك وآخرون. وقال أبو حنيفة و أحمد : يجوز إقامتها لأهل المصر في الصحراء كالعيد

”Tidak sah sholat Jum’at menurut kami (ulama Syafi’iyyah) kecuali di dalam bangunan yang didiami oleh orang-orang yang dengan mereka sholat Jum’at sah dilaksanakan. Tidak sah dilakukan di padang pasir. Inilah pendapat Malik dan ulama-ulama lainnya. Sedangkan Abu Hanifah dan Ahmad mengatakan,”Boleh mendirikan sholat Jum’at bagi penduduk kota (ahlul mishr) di padang pasir seperti halnya sholat ‘Ied.” (Imam Nawawi, Al Majmu’, IV/405). 
Imam Ibnu Qudamah dalam Al Mughni berkata:

ولا يشترط لصحة الجمعة إقامتها في البنيان، ويجوز إقامتها فيما قاربه من الصحراء، وبهذا قال أبو حنيفة. وقال الشافعي : لا تجوز في غير البنيان، لأنه بوضع يجوزلأهل المِصْر قصر الصلاة فيه، فأشبه البعيد

”Tidak disyaratkan untuk sahnya sholat Jum’at mendirikannya di dalam bangunan (al bun-yan), tetapi boleh mendirikan sholat Jum’at di padang pasir yang dekat dengan bangunan. Inilah pendapat Abu Hanifah. Syafi’i berkata,”Tidak boleh sholat Jum’at pada selain bangunan karena berarti itu dilakukan di tempat yang penduduk kotanya boleh meng-qashar sholat, maka tempat sholat Jum’at tersebut berarti mirip dengan tempat yang jauh.” (Ibnu Qudamah, Al Mughni, II/243).

Dari berbagai kutipan di atas, jelaslah ada dua pendapat ulama dalam masalah ini. Pertama, sholat Jum’at disyaratkan wajib di dalam masjid, jika dilaksanakan di luar masjid sholat Jum’atnya tidak sah. Inilah pendapat Imam Syafi’i (dalam satu riwayat) dan Imam Malik. Kedua, sholat Jum’at tidak disyaratkan dilakukan di masjid, tapi boleh di luar masjid seperti di padang pasir asalkan masih dekat dengan pemukiman/perkampungan (al bun-yan). Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad, dan juga pendapat Imam Syafi’i dalam riwayat lain. 

Setelah melakukan pengkajian dalil masing-masing mazhab, pendapat yang rajih (kuat) menurut kami adalah yang membolehkan sholat Jum’at di luar masjid, termasuk di jalan raya. Ada 3 (tiga) alasan; pertama, terdapat riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan sholat Jum’at di perut lembah (bathn al wadi) sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Sa’ad dan para penulis sejarah perang Rasulullah SAW (ahlus siyar). Kata Imam Syaukani,”Kalaupun riwayat ini tidak shahih, maka tindakan Rasulullah SAW melakukan sholat Jum’at di masjid tidaklah menunjukkan persyaratan sholat Jum’at wajib dilakukan di masjid.” (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Abadi,‘Aunul Ma’bud, III/399; Imam Syaukani, Nailul Authar, IV/304). 

Kedua, terdapat riwayat Ibnu Abi Syaibah bahwa Umar pernah menulis kepada penduduk Bahrain untuk melaksanakan sholat Jum’at di mana pun mereka berada (an jamma’uu haitsu maa kuntum). (Imam Syaukani, Nailul Authar, IV/303). 

Ketiga, terdapat riwayat bahwa Mush’ab bin ‘Umair pernah melakukan sholat Jumat bersama kaum Anshar di suatu tanah khusus negara (naqii’/hima) bernama Al Khadhimat, yakni bukan di dalam masjid. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, II/243).
Ulama Syafi’iyyah sendiri sebenarnya membolehkan sholat Jum’at di lapangan atau tempat terbuka di luar masjid, asalkan

tempat tersebut masih dekat dengan area pemukiman [darul iqamah] dan jaraknya dekat, yakni tidak sampai jarak qashar, yaitu 4 barid = 88,7 km. Imam Nawawi berkata:

قال أصحابنا ولا يشترط إقامتها في مسجد ولكن تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة من خطتها فلو صلوها خارج البلد لم تصح بلا خلاف سواء كان بقرب البلدة أو بعيدا منه وسواء صلوها في كن أم ساحة

“Telah berkata para sahabat kami [ulama Syafi’iyyah],’Tidak disyaratkan mendirikan sholat Jum’at di masjid tetapi boleh di lapangan terbuka dengan syarat tempat itu ada di dalam kampung [qaryah] atau kota [baldah] yang masih terhitung dalam batas kampung/kota itu. Kalau mereka melaksanakan sholat Jum’at di luar kota [baldah] maka tidak sah sholat Jum’atnya tanpa perbedaan pendapat, baik tempat itu dekat dengan kota [baldah] maupun jauh dari kota, baik mereka sholat di rumah (kin) kota maupun di lapangan.” (Imam Nawawi, Al Majmu’, IV/501).

Imam Al Khathib Al Syarbaini berkata :

ويجوزإقامتها في فضاء معدود من الأبنية المجتمعة بحيث لا تقصر فيه الصلاة كما في الكن الخارج عنها المعدود منها بخلاف غير المعدود منها.

“Boleh mendirikan sholat Jum’at di tanah lapang yang masih terhitung bagian dari bangunan-bangunan yang terkumpul [area pemukiman], dalam arti jaraknya tidak sampai membolehkan qashar shalat pada tempat itu, seperti rumah yang terletak di luar kampung tapi masih terhitung bagian area pemukiman. Ini berbeda dengan rumah yang letaknya tidak lagi terhitung bagian dari area pemukiman.” (Imam Al Khathib Al Syarbaini, Mughnil Muhtaj, I/529). Wallahu a’lam. [KH. M. Shiddiq Al Jawi]

Senin, 19 September 2016

Komunikasi Pasangan Suami Istri


Umum sekali terjadi, tak lama setelah perkawinan suami istri baru ini sudah   mulai menemukan bahwa komunikasi  antar mereka berdua, jadi tidak selancar, sehangat apalagi seindah ketika dulu sebelum menikah.
Sekarang, ada saja yang gak nyambung, emosi naik, kadang diam, tak biasa dimengerti dan seolah tak ada keinginan untuk mengerti. Dulu, kalau begini salah satu pasti tidak akan pernah berhenti membujuk, sampai salah satunya mengalah dan komunikasi tersambung kembali.

Kenapa sudah kawin malah jadi sebaliknya?
Harapan dan mimpi indah yang dulu dibagi bersama dan menimbulkan semangat, kini seolah menguap begitu saja . Kenyataan yang ada sangat mencengangkan karena banyak hal yang dulu tidak diketahui kini menjadi jelas merupakan kebiasaan yang kurang pas dan kurang menyenangkan bagi pasangannya. Mulai dari  kalau ngomong kurang diperhatiin, mau menang sendiri,kebiasaan yang tidak sama : naruh handuk basah diatas tempat tidur, suami merasa  kurang dilayani, istri merasa kurang didengarkan perasaannya dan sejuta perbedaan lainnya yang terus menerus terjadi dari hari ke hari….

Mengapa semua ini terjadi ?

1.Hidup lebih realistis, kebiasaan dan sikap  asli masing masing     nampak  dan tak perlu dipoles dan disembunyikan lagi.  Cara ekspresi emosi juga otomatis nampak : marah, menghakimi, selfish, narcist, mencap, dll. 

2. Dari pengalaman saya menghadapi berbagai kasus keluarga dan perceraian, ketika pasangan ini  belum menikah, mereka tidak mengetahui atau diberi tahu bahwa masing masing harus mempelajari latar belakang pengasuhan pasangannya dan  mengapa perlu tahu.. Yang paling buruk adalah kenyataan bahwa masing masing pasangan  tersebut bahkan tidak cukup kenal dengan dirinya sendiri!.

3.Tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menciptakan laki laki dan perempuan itu berbeda : Otaknya, hormon2nya, alat kelamin, ratio otot daging, kapasitas paru paru dlsbnya

4.Tidak memiliki ketrampilan bicara yang benar, baik dan menyenangkan  serta

5.Kurang memiliki ketrampilan mendengar, sehingga 

6.Tak mampu berkomunikasi yang baik, bersih dan jelas.  

         Apa akibatnya?

Masing masing seperti terperangkap dalam diri sendiri. Bagaimana  jalan keluarnya?. Mana bisa kita ceritakan sama ortu?  Sudahlah beliau capek mendidik kita, menyekolahkan, mengawinkan.. masak  masalah kita, kita bawa juga ke mereka. Kawin di jodohkan saja tidak mudah kita adukan apalagi ini pilihan kita sendiri. Tangan mencincang bahu memikullah. Kalau diceritakan ke orang lain, aib hukumnya. Menceritakan kekurangan atau kejelekan  pasangan, bisa bisa gak dapat mencium wanginya syurga!.

Jadi terasa seperti api dalam sekam,  panas terus tapi jangankan ada pintu atau jalan keluar , asap saja tak bisa  dihembuskan . Ini yang membuat kadang kadang semangat redup karena hati luka – merasa terkunci di hati sendiri , sulit ditemukan apalagi  diberi pertolongan! 

Harapan timbul tenggelam, ah.. siapa tahu nanti membaik. Siapa tahu  kalau anak sudah lahir, siapa tahu kalau ada adiknya pula.. siapa tahu…..

        Apa yang terjadi  selanjutnya ? 

Kebutuhan semakin  beda, marah mencuat, bersitegang – bertengkar, saling: merendahkan, menyalahkan, menjelek-jelekan & menjatuhkan saling menuduh,  menghakimi, mencap,  bahkan sampai menyebut nyebut orang tua. Akhirnya saling diam diam-an, bicara seperlunya saja semuanya membuat semakin sunyi di hati.
Sudah jelas dalam keadaan seperti ini  sulit bagi masig masing pasangan untuk  menunjukkan pengertian, pengakuan apalagi pujian!.
Satu tempat tidur  tapi seperti  beda planet ! Berpapasan dipintu  berusaha jangan senggolan, beradu kaki ditarik buru2. Kamar sering sekali sunyi, masing masing dengan aktifitas sendiri sendiri. Tapi hati semakin luka, semakin perih.

Kalau ada tamu : standard ganda. Saling menyebut  dan menyapa, seolah tidak terjadi apa apa : “iya begitu kan ya ma/pa?” hahahaha. Begitu tamu pulang , sunyi dan senyap kembali…
Kebutuhan untuk diterima dan didengarkan tetap ada pada masing masing, sebagai kebutuhan dasar agar tetap jadi manusia, mulailah  terjadi perselingkuhan atau punya teman curhat  yang biasanya berujung   maksiat atau kawin lagi. Yang popular sekarang adalah BINOR (Bini Orang) atau LAKOR ( Laki Orang) , yaitu selingkuh dengan teman sekerja, sekantor atau lain kantor atau teman SMP dan SMA dulu. Semua dijaga ;Tahu sama Tahu. Kalau hamil kan punya suami!. Yang paling buruk adalah selingkuh sejenis, seperti yang sering dibicarakan akhir akhir ini .. Yang jelas kebutuhan jiwa dapat , material apalagi!

Bayangkan bagaimana bermasalah anak anak yang tumbuh dalam keluarga seperti ini ? sudahlah mungkin rezeki tidak halal dan thayyib ortunya berbuat maksiat pula.
Banyak sekali orang tidak tahu, memang belum ada penelitiannya, bahwa bila seorang ayah atau ibu melakukan maksiat, pasangannya bisa dikelabuinya tapi tidak Allah dan anaknya!. Pengalaman saya menunjukkan bahwa anak yang tadi manis patuh dan berkelakuan baik, bisa tiba tiba gelisah, temper tantrum, tak bisa mengendalikan diri, marah, ngamuk dlsbnya.. bila secara diam diam salah satu ortunya berzina!.  Bayangkan, berapa banyak sekarang pasangan melakukan hal itu dan hubungkan dengan keresahan jiwa dan kenakalan remaja.
Dalam iklim psikologis dirumah  yang buruk sekali itulah  anak tumbuh dan berkembang. Bayangkanlah dampak  bagi perkembangan kejiwaan, emosi, kecerdasan,  social dan spititualnya!

        Jadi, bagimana sebaiknya ?

Pertama harus disadari benar bahwa  komunikasi pasangan ini sangat penting  karena  ia mencerminkan Iklim rumah: fondasi keluarga, kesehatan pribadi, kesehatan anggota keluarga, cerminan: kekuatan, kelemahan & kesulitan perkawinan dan Kelanjutan  serta kepuasan hidup!.
Intinya, kalau suami usia masih  muda sudah sakit sakitan jangan jangan ada masalah besar dengan istrinya. Sebaliknya, bila istri masih muda sakit sakitan, jangan jangan suaminya bermasalah!.  

Untuk itu, kenalilah masa lalu masing masing pasangan. Apa  dan pengasuhan yang bagaimana yang membuatnya seperti sekarang ini yang kita uraikan diatas. Perjodohan adalah sebagian dari iman, karena tidak akan berjodoh anda dengan pasangan anda kecuali dengan izin Allah. Jangan mudah menceraikan atau minta cerai, karena itu adalah pekerjaan halal  yang dibenci Allah. Perkawinan adalah perjanjian yang sangat kokoh : “Mitsaqan Galidha”. Allah lebih tahu, dari yang anda rasa dan fikir kurang atau  buruk, disitu banyak kelebihan dan kebaikan menurut Allah.

Tapi karena kita kurang waspada dan menyadari  bahwa syaithan tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan perkawinan, seperti yang dilakukannya terhadap nabi Adam dan ibu Hawa, maka kita akan terkurung dalam penilaian dan pemikiran yang buruk saja tentang pasangan kita.
Jadi, berusahalah untuk meningkatkan keimanan, mintalah pertolongan Allah agar dibukakan mata hati kita untuk :Bersyukur, menerima ketentuan Allah, bersangka  baik,  melihat kelebihan lebih banyak dari kekurangan, menemukan ‘Inner child” pasangan dan berusaha memaklumi dan perlahan merubahnya.
Kesulitan utama yang banyak dihadapi orang adalah karena dia tidak mengenal dirinya sendiri. Dia sendiri memiliki ‘inner child” yang parah dan terperangkap disitu. Dia sendiri melimpah, sehingga bagaimana mungkin menolong pasangannya . Dalam situasi seperti ini pasangan ini memerlukan  pertolongan ahli, bahkan mungkin butuh terapi. Bila hal ini tidak segera dilakukan, penderitaan keduanya  bisa berkepanjangan karena yang jadi korban adalah harapan satu satunya dimasa depan yaitu : anak anak mereka ! .

Selanjutnya adalah menyadari bahwa Allah menciptakan otak kita ini berbeda. Jadi pelajarilah akibat perbedaan ini lewat syeikh Google atau mbah Wiki, dan apa dampanya pada salah pengertian dan salah harapan antara suami dan istri.

Langkah berikutnya untuk memperbaiki komunikasi adalah belajar menjadi “Pendengar” yang baik. Memang tidak mudah, karena kita dari kecil diajarkan untuk  bicara dan bicara: lewat lomba pidato, story telling, debat dlsbnya. Tapi tidak ada lomba mendengar!.

       Mendengar yang baik ada kiatnya : 

1.Hindari  penghalang mendengar, yaitu : Lebih mudah membuat jarak dengan pasangan, malas komunikasi, kalau ngomong bukannya dengar tapi memikirkan jawaban, menyaring tanda-tanda bahaya dalam percakapan, mengumpulkan data-data untuk       mengutarakan pendapat dan memberikan penilaian  terhadap apa yang di kemukakan oleh pasangan.

2.Berusahalah mendengar yang benar dengan :
Bukan hanya diam di depan pasangan yang sedang bicara tapi cari tahu (tanpa “baca pikiran”) apa yang dimaksudkan, dikatakan dan dilakukan pasangan . Tunjukkan  kita mengerti pasangan, sehingga hubungan terasa jadi lebih dekat, bisa menikmati kebersamaan, menciptakan dan melanggengkan keintiman. 

3.Mendengar yang benar membutuhkan COMMITMENT & COMPLIMENT.  

Commitment/ kesepakatan dengan diri kita sendiri  artinya  dalam mendengar kita berusaha untuk: Mengerti, Memahami, Menyisihkan minat dan kebutuhan pribadi , Menjauhkan prasangka dan berusaha  untuk Belajar melihat dari sudut pandangan pasangan 
Sedangkan Compliment /hadiah adalah  menunjukkan pada pasangan bahwa “Saya peduli kamu, sanggup anda, Saya ingin tahu apa yang kau pikir atau  apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu butuhkan”.

Semua ini memang tidak gampang tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Cobalah sedikit sedikit asal  jangan anda  menyerah dan kembali ke pola komuniasi  yang semula. 

Mungkin yang  penting sekali  untuk anda ingat : 

Kalau ada kerikil dalam sepatu, terasa menganggu dipakai berjalan, buka sepatunya  buang kerikilnya, bukan sepatunya yang anda ganti. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk anda!. 

Yakin bahwa anda bisa. Pasti bisa!! 

Di ambil dari tulisan Ibunda 
Elly Risman (Psikolog)
Di Bekasi, 19 September 2016

Bila  anda rasa tulisan ini bermanfaat, tak perlu minta izin silahkan share sebanyak yang anda bisa. Semoga ada manfaatnya .

Selasa, 14 Juli 2015

Cara Menghitung Zakat Fitrah

Cara Menghitung Zakat Fitrah

Zakat Fitrah = 2.5 Kg Beras x Jumlah Jiwa
Contoh Perhitungan :
Bapak Mahmud sebagai kepala keluarga mempunyai seorang istri, 3 orang anak. Makanan pokok sehari-hari mereka adalah beras seharga Rp 11000/kg. Zakat fitrah yang harus dibayar oleh Bapak Mahmud adalah sebagai berikut:
Jumlah anggota keluarga = 5 Orang
Harga beras per Kg = Rp 11.000
Besarnya zakat fitrah = 2,5 Kg x 5 Orang x Rp 11.000
= Rp 137.500,- atau 12,5 Kg beras

Selasa, 28 Oktober 2014

Bolehkah Khitbah Lewat SMS ? dan adakah Batas Waktu Khitbah ?


Tanya :
Ustadz, bolehkah ikhwan mengkhitbah akhwat lewat SMS? Adakah batas waktu khitbah?
Jawab :
Boleh hukumnya mengkhitbah (melamar) lewat SMS, karena ini termasuk mengkhitbah lewat tulisan (kitabah) yang secara syar’i sama dengan khitbah lewat ucapan. Kaidah fikih menyatakan : al-kitabah ka al-khithab (tulisan itu kedudukannya sama dengan ucapan/lisan). (Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 2/860).
Kaidah itu berarti bahwa suatu pernyataan, akad, perjanjian, dan semisalnya, yang berbentuk tulisan (kitabah) kekuatan hukumnya sama dengan apa yang diucapkan dengan lisan (khithab). Penerapan kaidah fikih tersebut di masa modern ini banyak sekali. Misalnya surat kwitansi, cek, dokumen akad, surat perjanjian, dan sebagainya. Termasuk juga “bukti/dokumen tertulis” (al-bayyinah al-khaththiyah) yang dibicarakan dalam Hukum Acara Islam, sebagai bukti yang sah dalam peradilan. (Ahmad Ad-Da’ur, Ahkam Al-Bayyinat, hal. 71; Asymuni Abdurrahman, Qawa’id Fiqhiyyah, hal. 52).
Dalil kaidah fikih tersebut, antara lain adanya irsyad (petunjuk) Allah SWT agar melakukan pencatatan dalam muamalah yang tidak tunai (dalam utang piutang) (QS Al-Baqarah : 282). Demikian pula dalam dakwahnya, selain menggunakan lisan, Rasulullah SAW juga terbukti telah menggunakan surat. (Kholid Sayyid Ali, Surat-Surat Nabi Muhammad, Jakarta : GIP, 2000). Ini menunjukkan bahwa tulisan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan lisan.
Jadi, seorang ikhwan (pria) boleh hukumnya mengkhitbah seorang akhwat (wanita) lewat SMS, berdasarkan kaidah fikih tersebut. Namun demikian, disyaratkan akhwat yang dikhitbah itu secara syar’i memang boleh dikhitbah. Yaitu perempuan tersebut haruslah : (1) bukan perempuan yang haram untuk dinikahi; (2) bukan perempuan yang sedang menjalani masa ‘iddah; dan (3) bukan perempuan yang sudah dikhitbah oleh laki-laki lain. (Nida Abu Ahmad, Al-Khitbah Ahkam wa Adab, hal. 5).
Adapun mengenai batas waktu khitbah, yaitu jarak waktu khitbah dan nikah, sejauh pengetahuan kami, tidak ada satu nash pun baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang menetapkannya. Baik tempo minimal maupun maksimal. (Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, hal. 77). Dengan demikian, boleh saja jarak waktu antara khitbah dan nikah hanya beberapa saat, katakanlah beberapa menit saja. Boleh pula jarak waktunya sampai hitungan bulan atau tahun. Semuanya dibolehkan, selama jarak waktu tersebut disepakati pihak laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda,”Kaum muslimin [bermu'amalah] sesuai syarat-syarat di antara mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau yang menghalalkan yang haram.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi). (Ash-Shan’ani, Subulus Salam, 3/59).
Namun kami cenderung menyatakan semakin cepat menikah adalah semakin baik. Sebab jarak yang lama antara khitbah dan nikah dapat menimbulkan keraguan mengenai keseriusan kedua pihak yang akan menikah, juga keraguan apakah keduanya dapat terus menjaga diri dari kemaksiatan seperti khalwat dan sebagainya. Keraguan semacam ini sudah sepatutnya dihilangkan, sesuai sabda Rasulullah SAW,”Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi & Ahmad). Wallahu a’lam.
Yogyakarta, 18 Januari 2009
Muhammad Shiddiq Al Jawi

Senin, 27 Oktober 2014

RASIONALITAS AKAL MENCARI TUHAN

Pernah disampaikan oleh Ustad K. H. MAI
***
Tiada sikap yang baik dan mulia sebagai hamba Alloh yang bertahuid cepat atau lambat pasti berjumpa dengannya kecuali langkah takwa menyertai kita dimanapun kapanpun dan dalam kondisi bagaimana pun. Rasullaloh SAW adalah seorang utusan Alloh yang menjadi rahmatan lil alamin membawa rahmat untuk seluruh alam yang berhasil mendobrak dinding pemisah antara bangsa barat dengan bangsa timur, bangsa arab dengan bangsa ajam(diluar bangsa arab) antara kulit hitam dan kulit putih, islam adalah agama yang tidak terikat oleh territorial, geografis, suku, bangsa, rasis, etnis, nasionalisme. Islam adalah agama yang tidak terikat oleh ideology apapun apalagi ideology materialistis atau ideology kepentingan bahkan Islam adalah agama yang tidak terikat oleh sekedar darah keturunan, yang mengikat Islam hanya Alloh dan Rasulnya maka yang paling mulia diantara hamba-hamba Alloh bukan siapa yang bicara atau yang mendengar, bukan siapa yang tua atau yang muda tetapi siapa diantara kita yang paling pandai, paling cerdas, paling tekun mendekatkan diri pada-NYA. Inna akramakum, ‘Indallahiadzqookum” sesungguhnya yang paling mulia diantara hamba-hambaKu adalah siapa diantara mereka yang paling bertakwa  (QS Al Hujarat : 13)

Takwa adalah penilaian yang paling objektif. Rasulullahi Saw bersabda: akiyya summin ummatii aksarhum zikralmaut wa asyaddu isti’dadanlah, “yang paling cerdas, yang paling pintar yang paling mulia diantara umatku adalah siapa diantara mereka yang paling banyak ingat mati dan mempersiapkan hidup setelah mati”.

Rasionalitas Al Quran sebagai mukjizat

Prof Bernard berkata “semakin maju zaman semakin tinggi tingkat peradaban dan kebudayaan umat manusia, semakin luas otoritas intelektual manusia dan lambat laun tapi pasti  dengan pasti manusia berlomba- lomba meninggalkan agamanya masing masing”. Ada dua faktor yang melatarbelakangi fenomena yang agresif  ini.

Pertama mereka menganggap agama sudah tidak sanggup lagi menjawab kebutuhan umat manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman, akibatnya mereka mencari solusi dan alternative lain yang mampu menjawab problema tersebut. Sengaja atau tidak sengaja sadar atau tidak sadar lahirlah agama baru atau mereka sendiri yang melahirkan agama baru itu. Materialisme, skulerisme, hedonisme dan dalam konteks bahasa kenabian yaitu hubbu dunya wa karahatul akhirah. “terlalu cinta dunia yang sangat-sangat berlebihan dan akibatnya mereka takut mati”.

Disisi lain mereka menganggap agama hanyalah mitos-mitos lama, cerita-cerita sakral dan kalau pun yang dihidupkan dalam agama hanyalah ritual rutinitas bukan ritual yang berkualitas. Boleh jadi Allahuakbar di atas hamparan sejadah, Allahuakbar di musholla, Allahuakbar di masjid tetapi dilapangan, dikantor bahkan di hotel sekalipun nafsu Akbar. Dimulutnya bertasbih, bertahmid, bersholawat tapi dimulut ini lah juga ia berbohong, menipu, meng gibah, fitnah. Lagi sholat ia tutup auratnya sopan rapi, mulia sehingga mudah dikenal oleh para penghuni langit dan bumi, dan Alloh abadikan dalam surat Al Ahzab : 59 “…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu..” . Seribu kali sayang walaupun berikral dalam sholatnya tunduk, patuh seusai sholat pakaian sopan santun mulia itu kembali ditanggalkan diganti dengan pakaian yang serba transparan.

Kedua mereka menyatakan “my brain is my god”, otak ku adalah tuhan ku, dengan olah otak, imajinasi otak, melahirkan pengetahuan, dari sains melahirkan teknologi dan dari teknologi semuanya dapat mempermudah manusia dalam mengelola segala urusannya. Maka disaat itu manusia tidak lagi membutuhkan agama bahkan titik kulminasinya “bukanlah Tuhan yang menciptakan manusia tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan”.

Dengan alibi yang sangat nakal kemudian ia bertanya kalau memang tuhan itu ada, maka dimanakan adanya?, Kalau memang tuhan itu ada, kapan adanya? Telur ayam yang dulukah atau ayam yang dulukah?, kalau memang tuhan itu ada, bagaimana wujudnya? Maka tidak mustahil ada agama yang mewujudkan tuhan, dalam bentuk benda-benda, hewan-hewan, manusia. Sangat unik kan? Tuhan dipersonifikasikan dalam bentuk manusia. Kalau memang alam raya ini ciptaan tuhan dan itu yang menjadi alasan semua agama, lalu siapa yang menciptakan tuhan? Pertanyaan-pertanyaan sangat nakal ini akan kita jawab dalam pernyataan dibawah ini:

Dari dua pernyataan ini melahirkan dua pertanyaan,

Pertama apakah semua agama tidak sanggup menjawab kebutuhan umat manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman. Sebagai mana Karl Marx berkata ”semua agama adalah candu” padahal thesis Karl marx adalah pada satu agama dari kegagalan agama gerejani pada saat itu. masih ingat? Tirani intelektual Nicolaus capernicus, Galileo adalah tumbal dari tirani intelektual itu. Kaum gerejani kala itu beranggapan bahwa bumi itu sentries padahal dalam hasil penelitian bahwa matahari sentries, karena perbedaan antara ahli astronom ilmuan dan gerejani dikala itu karena gerejani berkuasa maka para ilmuan dihukum bahkan ada yang di bakar hidup-hidup.

Kemudian ada juga tirani ekonomi dimana para jemaat diharuskan membayar sebagian hartanya untuk kepentingan tuhan bapa diatas sana, tetapi malah digunakan untuk kepentingan pribadi kaum gerejani, dan yang paling menyakitkan adalah tirani kepercayaan dengan dogma lisensi pengampunan dosa oleh Paus. Sebesar apapun dosa manusia akan dapat diampuni asalkan mampu membayar surat pengampunan dosa tersebut. ”atas nama sipulan bin pulan”, bahwa semua dosanya diampuni baik dimasa lalu, dimasa kini dan yang akan datang kemudian akan duduk berdampingan dengan tuhan bapa disana”.

Justru doktrin yang terakhir inilah yang menjadi pangkal haloganisme kebrutalan, semakin berani orang melakukan pelanggaran-pelanggaran agama toh nanti diampuni oleh tuhan, semakin berani orang merampok toh juga tinggal di bayar, semakin berani orang korupsi toh akan beres dengan duit. Yang baik menjadi jahat dan yang jahat semakin menjadi-jadi jahatnya. Kemudian Karl Marx kecewa lalu menarik kesimpulan dengan emosional bahwa agama tak ubahnya seperti tirani. Penjara kehidupan dan lalu dengan tergopoh-gopoh mengatakan bahwa semua agama adalah candu. Baik kalau semua adalah candu, berarti Karl Marx berkata semua yang berkaki empat adalah kerbau, padahal tidak hanya kerbau yang berkaki empat ada anjing, kucing pun berkaki empat, berarti pasti ada satu kebenaran mutlak dari kebenaran nisbi.

Pertanyaan kedua manusia yang bagaimana yang harus memiliki agama, apakah manusia-manusia yang sudah cerdas tidak perlu agama, dalam artian lain agama hanyalah bagi orang-orang yang bodoh, orang-orang yang kampuangan, lalu agama terkesan keterbelakangan. Dalam menjawab pertanyaan semacam ini diperlukan pengkajian secara objektif bukan subjektif, rasional bukan emosional, bhasan otak bukan hati.

Mengapa demikian? Jika pengkajiannya secara subjektif, emosional atau hati maka hasilnya adalah nisbi, relative dan semu alias kebenaran yang terbatas. Semua agama benar menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing adalah benar tidak salah karena menurut kepercayaannya masing-masing hasilnya relative namun jika dikaji secara rasional objektif tidak mungkin semua agama benar pasti ada kebenaran mutlak diantara kebenaran nisbi, pasti ada kebenaran objektif/umum diantara kebenaran subjektif yang terbatas.

Kita mulai pengkajian objektifitas ini dengan mencari jawaban syarat-syarat tuhan, jika tuhannya benar maka agamanya benar.

1. Teori Relativitas
Einstein terbatas oleh 4 dimensi ruang, waktu, daya dan guna. selama terbatas oleh 4 hal ini maka disebut alam raya. Berati syarat tuhan yang pertama adalah mutlak tidak terbatas dan relativitas inilah menjawab pertanyaan-pertanyaan nakal tadi seperti dimana?, kapan?, siapa yang menciptakan tuhan? Kalau ada yang bertanya dimana? Berarti terbatas oleh dimensi tempat itu bagian dari alam, tuhan tidak terbatas oleh dimensi tempat, lalu pertanyaan kapan? itu terbatas dimensi waktu, bagaimana? berarti terbatas dimensi wujud dan guna. Lalu siapa yang mencipkan tuhan, teori ini mengjarkan bahwa jawabannya adalah tuhan, yang menciptakan tuhan?, tuhan,,, yang menciptakan tuhan?, tuhan,,, asalkan jawabannya tuhan pasti berhenti pada kata tuhan atau dihentikan oleh tuhan berarti teori relativitas menyatakan bahwa tuhan mutlak tidak terbatas hanya alamlah yang terbatas.

2. Teori Nonautomatic
Bahwa dimuka bumi ini tidak ada yang otomatis atau terjadi dengan sendirinya “bim salabim abraakadabraa” likes magic show David Copperfield. Di balik wayang pasti ada dalang, dibalik film pasti ada sutradara, dibalik permainan pasti ada pemain, dan di balik ciptaan pasti ada PENCIPTA. Maka mungkinkah rotasi evolusi alam yang menakjubkan para kosmolog sehingga melahirkan ilmu pasti ruang angkasa kosmos itu terjadi dengan sendirinya? Maka teori non otomatis ini menjelaskan bahwa adanya pencipta alam raya ini, berati tuhan sebagai pencipta maka dengan mudah teori non otomatis ini menggugurkan teori atheis yang menyatakan tuhan itu tidak ada, sebenarnya ia sudah bertuhan dengan akalnya takala ia menyatakan tuhan tidak ada itulah yang menjadi tuhannya.

3. Teori The Most
Paling tertinggi, terbesar, terkuat, terkuasa, termulia paling mulia itu “only one” satu dalam artian tuhan itu hanya satu tidak dua, atau tiga, apalagi multi tuhan. Satu dalam artinya kebenaran yang benar itu hanya satu semuanya salah, pasti ada satu kebenaran objektif diantara kebenaran yang subjektif, pasti ada emas diantara timah, tembaga dan besi. Pasti ada mutiara diselala lumpur, pasti ada Tuhan diantara hantu-hantu pasti ada agama diantara gama-gama.

4. Teori Super Nature Power
Adanya kekuatan dahsyat di balik nature, kekuatan metafisik yang luar biasa contohnya yang sederhana adalah ruh yang ada dalam diri kita dan ruh adalah bion yang hidup justru jasad ini adalah bion yang mati. Mayit bermata, bertelinga, berkaki tapi tidak dapat berbuat apa-apa karena ruhya sudah tidak ada. Berarti ruh adalah bion yang hidup dan sampai detik ini tidak seorang professor pun apalagi yang awam yang dapat berhasil mendeteksi bentuk dari pada ruh.

Dari ke empat teori ini silakan cari kitab yang dianggap suci oleh umatnya, jika kitab itu mengandung empat unsur teori ini berati kitab itu benar-benar tersuci. Mungkn kita akan kehabisan waktu untuk mencari kitab-kitab suci, jangankan kitab suci yang lain kitab suci sendiri saja jarang kita sentuh, kalau tidak percaya silakan saja datang kerumah-rumah setiap orang islam ketuk pintunya ucapkan salam kemudian mintalah Al-Qur’an yang berada dirumah orang islam itu pegang setelah diberikan ucapkan terima kasih lalu angkat telunjuk tangan sahabat hampir dapat di pastikan telunjuk tangan sahabat akan berdebu, mengapa? Karena mereka jarang menyentuh Al-Qur’an apalagi membacanya, apalagi mengamalkannya. Bukankah amalan itu lahir dari paham, lahir dari penghayatan, penghayatan itu lahir dari paham, paham itu lahir dari membaca dan membaca itu lahir dari menyentuhnya.

Professor Lurth seorang ahli filsafat, dari Rusia beliau pernah mencari kebenaran dari 12 agama, beliau masuk agama satu lalu pindah ke agama yang lain. Dan akhirnya beliau berhenti pada agama yang 12, agama yang ke 12 itu adalah agama Islam. Mungkin sahabat bertanya mengapa beliau memilih agama Islam sebagai agama yang ke 12. Karena beliau sungguh amat benci pada agama Islam, justru kebencian yang sangat luar biasa itulah yang membuat beliau jatuh cinta dengan Islam.

Dalam Al-Qur’an dikatakan pada surat Al Baqarah ayat 216 yang artinya; “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.
Al-Qur’anul Karim menjawab secara gamblang dan sempurna problem-problem kehidupan & bukti-bukti ilmiah yang paling mutakhir.

Kita buktikan bahwa 4 teori diatas tadi terjawab didalam Al Qur’annulkarim,

Yang Pertama
teori relativitas bahwa tuhan itu mutlak alam ini yang terbatas. Allah jawab dalam surat yang pendek, padat tapi mengandung bobot tauhid yang luar biasa yaitu surat Al-Ikhlas alias surat Qulhu. Mungkin diberi nama Al-Ikhlas karena kita paling ikhlas membacanya, bahkan kalau kita menjadi ma’mum rela menjadi menjadi ma’mum kalau imamnya membaca Al-Ikhlas. Baik bukan itu makna dari surat Al-Ikhlas, surat Al-Ikhlas itu kaitannya erat dengan Laa ikraha fi ad-din “Tidak dipaksa masuk agama Alloh dan agar ikhlas memeluk agama Alloh dalam melaksanakan perintah-perintah Alloh penuh dengan keikkhlasan-keikhslasan”.

Dibalik pendeknya surat Al-Ikhlas ini ternyata mengandung bobot tauhid yang luar biasa, kita buktikan dari teori relativitas dijawab oleh Allah Lam yalid wa lam yulad  Wa lam yakul lahu kufuwan ahad “Tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak satu makhlukpun yang menyerupainya”. Dan ini juga Alloh jawab dalam surat Ar Rahman ayat 25-26 Kullu Man 'Alaiha Fan, Wa Yabqo Wajhu Robbika Dzul Jalaali Wal Ikrom “Semuanya pana kecuali Allah pengatur  alam semesta ini yang baqo atau kekal”.  Berarti manusia itu terbatas, alam ini terbatas dan hanya Alloh lah yang mutlak.

“Alloh ada sebelum kata ada itu ada, dan Alloh akan tetap ada sekalipun kata ada itu sudah tidak ada, adanya Alloh karena ketiadaan makhluknya”
Kalau soal di mana, kapan, bagaimana, dan siapa yang menciptakan tuhan. Fira’un saja pernah naik ke atas menara yang tinggi atas ide arsitek Bal’an.  Di atas menara yang tinggi itu Fira’un berteriak dengan lantang dan ini Allah abadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 55 Wa idz qultum yaa muusaa lan nu mina laka hattaa naroo aloha jahrotan fa akhadzatkumu alshshaa’iqatu wa antum tanzhuruuna “Hai Musa aku tidak akan sekali kali beriman kepada mu sampai aku sanggup melihat tuhanmu dengan mata kepala ku”. Mata adalah instumen yang terbatas, sesuatu yang terbatas maka hasilnya akan terbatas pula tidak usah sombong mata melihat apa yang dilihat, melihat mata itu sendiripun mata tidak sanggup. Berarti teori yang pertama sudah dijawab dalam surat Al-Iklhas.

Yang Kedua
Teori Nonautomatic bahwa di muka bumi ini tidak ada yang automatis. Masih ingat cerita Nabi Ibrahim As ketika mencari tuhan sehingga beliau dikenal sebagai Khalilullah “Kekasih Alloh” karena tauhidnya yang amat sangat luar biasa. Inipun Alloh abadikan dalam surat Al-An’am, Ayat 75-79, ketika beliau melihat Kawakib “Bintang-bintang” haza robbi kata Nabi Ibrahim “Ini Tuhanku” ternyata menjelang subuh bintang-bintang itu tenggelam. Akhirnya Nabi Ibrahim itu berkata “La Uhibbul Afilin” aku tidak suka dengan tuhan yang terbatas. Kemudia ia melihat Al Qomar “Bulan”, haza robbi, ini tuhan ku, ternyata bulan pun menjelang subuh tenggelam, “La Uhibbul Afilin” aku tidak suka dengan tuhan yang terbatas. Kemudian melihat Asy syamsu “Matahari”, haza akbar, ini lebih besar ternyata yang di anggap lebih besarpun itu menjelang magrib tenggelam. Akhirnya Nabi Allah berkata ”La-illam yahdini Rabbi la akunannaminal qaumiddhollin” Ya Rabb seandainya engkau tidak memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami akan menjadi kaum yang sesat. Bertuhan, waktu, tempat, daya dan guna bertuhan yang terbatas, matrialisme, sekularisme.

Beri petunjuk kami ya Rabb. Allah menjawab “Inni wahjahtu Wajhia lillazi patharassama watiwalardi” Nabi Ibrahim Wajahkan wajahmu kepadaku, akulah pencipta langit dan bumi, “Inni wahjahtu” terkenal sebagai do’a Iftitah dalam sholat sebelum Al-Fatihah.
Prolog sebelum bedialog “Al-Liqho qoblal liqho” kata imam Gozali, berjumpa sebelum berjuma. Berjumpa Allah saat sholat dan insyallah akan berjumpa setelah kita wafat.
Alladzina yadzunnuna annahum mulaqurabbihim wa annahum ilaihi rooojiuuun “Orang-orang khusuk itu adalah dalam shalatnya seakan-akan ia berjumpa dengan Allah sebagaimana ia akan wafat nanti akan berjumpa dengan Allah”. (Al Baqarah :46)

Yang Ketiga
teori The Most bahwa tuhan itu hanya satu, dan ini Allah jawab, lagi-lagi dalam surat Al-Ikhlas agar mengakui tuhan satu itu benar-benar ikhlas Qulhuwallohu ahad  “Katakanlah bahwa Alloh itu Ahad” dan tentu makna ahad itu berbeda dengan satu. Mengapa? Sebab satu itu berbilang, berjumlah, berkali, berbagi, 2:2=1, 1×1=1, 2-1=1 sementara Allah tidak berbilang, tidak berjumlah, tidak berkali, Ahad adalah esa, tunggal. Alloh ahad, kemudian satu artian dalam kebenaran, yang benar hanya satu, semuanya salah!!! Ini pun Allah jawab dalam surat Al-Fath, ayat 28  Huwa alladzi arsala rasuulahu bialhudaa wadiini alhaqqi liyuzhhirohu’alaa alddiini kullihi wakafaa biallohi syahiidaan “Dialah yang mengutus Rasulullah dengan hidayah dan agama yang benar agar ditampakkannya kebenaran terhadap semua agama dan cukuplah Allah yang menjadi saksi” Inilah yang pernah dikatakan oleh professor Lurth “Bila engkau berpikir dengan sungguh-sungguh niscaya ilmumu akan memaksa diri mu untuk mencari tuhan” iqra’ baca, iqra’ teliti, iqra’ observasi. Bismikalladzi kholak  kau akan menemukan Rab yang menciptakanmu. “Siapa yang tahu dirinya maka ia akan tahu siapa tuhannya”

Kemudian yang Terakhir
Teori “Super Nature Power” kaitannya dengan ruh, Allahuakbar. Allah jawab dengan indah dalam surat Al-Israa’ ayat 85 Wa yas-alunaka 'anir ruhi, qulir ruhu min amri rabbi wa ma utitum minal 'ilmi illa qalila “Hai manusia aku berikan kau ilmu qolila (yang sedikit sangat amat sedikit)”.  Imam Ali ra ditanya apakah yang dimaksud dengan “Qolila” Imam Ali ra menjawab dengan analogi “telunjuk tanganmu celupkan kelautan dan angkat setetes yang jatuh itulah ilmumu lautan adalah ilmu Al-Qur’an nur karim”. ditambah lautan lagi semisal, ditambah lautan lagi semisal, dan pohon dijadikan pensil tidak akan bisa menulis dan menjabarkan ilmu-ilmu Allah (QS Luqman:27). Lautan adalah gambaran luas dan dalam. Berarti secerdas-cerdasnya manusia ilmunya sungguh amat sedikit.

Lalu tidak ada tingkat banding dengan tetesan air laut itu yang amat sangat luasnya dan dalam. Kalaupun ada yang membandingkan itu adalah perbandingan yang bodoh dan naif. Qolila artinya ini, betapa lemahnya ilmu manusia betapa sedikitya ilmu manusia, karena itulah Allah menyatakan “Hai manusia kau bertanya soal Ruh, Ruh adalah urusanku, Kau takkan pernah tahu bentuk dan wadah Ruh sebagaimana kau tidak pernah tau kapan, dimana, bagaimana engkau mati yang pasti kau pasti akan mati”.

Ternyata 4 teori ini dijawab oleh Al-Qur’a nur karim berarti Al-Qur’an adalah ajaran, keyakinan yang sangat objektif, dapat diterima dengan akal yang sehat. Karena terbukti dengan melakukan pengkajian-pengkajian teori objektifitas berarti mereka yang melaksanakan apa yang ada di dalam Al-Qur’an adalah mereka yang cerdas dan pintar mereka yang bangun ditengah malam adalah orang yang cerdas, mereka berinfak karena mengamalkan Al-Qur’an adalah orang yang cerdas, mereka yang melaksanakan ibadah haji disaat mampu adalah mereka yang cerdas.

Berarti semakin maju zaman, semakin terjawab bukti-bukti kebenaran Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak pernah ketinggalan zaman, bahkan Al-Qur’an menjaga zaman. Maka bila kita meninggalkan Al-Qur’an maka kita menjadi manusia-manusia yang tertinggal, alias manusia yang terbelakang. Nah saudara-saudari yang kucintai pegang teguh kitab suci Al-Qur’an, sentuhlah, bacalah, pahami, hayati, amalkan, belajar kemudian ajarkanlah Al-Qur’an itu. ***

Cari disini

Translate (Penterjemah)

Sahabat Di Lingkaran Google

Followers